English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 10 Oktober 2009

Mendo’akan hidayah bagi orang kafir adalah sunnah



AL-MAHABBAH (KECINTAAN)


Dari Abu hamzah Anas bin Malik – pelayan Rasulullah r – dari Nabi r beliau bersabda : “Tidak beriman seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri
(HR Bukhari dan Muslim)


Biografi perawi:
Ketika Rasulullah ra  tiba di madinah Ummu Anas bersama anaknya pergi menhadap Rasulullah r dan berkata kepada beliau: “Ya rasulullah ambilah anak ini, ia akan melayanimu” . Maka sebelumnya dan saat itu beliau berusia 10 tahun dan terus-menerus menjadi pelayan sampai Nabi r  wafat dan dia rela dengan beliau. Dulu ketika sholat maka sangat lama berdiri sehingga kakinya meneteskan darah. Ketika dia menkhatamkan Al-Qur’an dia kumpulkan anak dan keluarganya dan berdo’a untuk mereka. Beliau berperang bersama rasulullah 8 kali peperangan dan tinggal di Madinah. Beliau juga menyaksikan kemenangan. Kemudian beliau menetap di Bashrah dan wafat di sana. Beliau adalah termasuk shahabat yang di Bashrah yang meninggal belakangan dan diriwayatkan darinya sebanyak 2286 hadits.

Pendahuluan Hadits ini adalah salah satu kaidah dari kaidah agama Islam dan yang dimaksud darinya adalah persamaan yang dengannya bisa terwujud kecintaan dan persahabatan yang langgeng di antara manusia dan teraturlah keadaan mereka.

Penjelasan Sabda rasulullah “Tidak beriman seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. Pertama: itu dimungkinkan atas keumuman persaudaraan baik mencakup kafir ataupun muslim maka ia mencintai saudaranya yang kafir sebagaimana mencintai dirinya sendiri agar ia masuk ke dalam Islam sebagaimana ia mencintai kepada saudaranya yang muslim agar ia tetap dalam Islam. Oleh karena itu mendo’akan hidayah bagi orang kafir adalah sunnah. Dan hadits menunjukkan atas peniadaan iman yang sempurna bagi orang yang tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Dan yang dimaksud dengan kecintaan adalah maksud untuk berbuat kebaikan dan kemanfaatan kemudian yang dimaksudkan adalah kecintaan yang bersifat keagamaan bukan yang bersifat kemanusiaan. Karena tabiat manusia kadang membenci terwujudnya kebaikan dan membedakannya atasnya. Maka manusia wajib menyelisihi tabiat manusia dan mendo’akan saudaranya ingin untuknya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Dan seseorang jika tidak mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya maka ia telah hasad. Dan hasad, sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali terbagi menjadi tiga bagian:
1.      Ia menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain dan terjadi pada dirinya.
2.      Ia menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain dan jika tidak terjadi padanya , sebagaimana jika ia memiliki yang semisal tidak mencintainya dan ini lebih jelek dari pada yang pertama.
3.      Ia tidak menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain akan tetapi ia benci jika bagian dan kedudukan orang lain itu naik. Dan dia rela jika terjadi persamaan dan tidak rela jika ada tambahan dan ini juga haram. Karena sesungguhnya ia tidak rela dengan pembagian Allah Ta'ala :”Apakah mereka yang membagi rahmat Rabb kalian ?! Kamilah yang membagi[1] al-ayat.”barang siapa yang tidak rela dengan pembagian “ maka ia telah menetang Allah Ta'ala dalam pembagian-Nya dan hikmah-Nya. Wajib bagi manusia untuk mengobati dirinya dan menuntunnya kepada kerelaan dengan ketetapan dan menyelisihinya karena permusuhannya dengan yang diselihi oleh jiwa
.

Pemikiran hadits Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga ia menginginkan untuk saudaranya sama dengan yang dia inginkan.
Pemahaman hadits
1.      mencintai kebaikan untuk saudara muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
2.      membenci kejelekan menimpa saudara muslim sebagaimana ia membenci kalau itu menimpanya.
 

[1] Az-Zuhruf : 32





Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul