English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 01 Mei 2010

Psikologi melalui gambar unik

Akhi sekalian... 
Kalau mata kita mengikuti gerakan putaran bulatan warna pink, hanya akan terlihat satu warna, pink. Kalau pandangan mata ke tanda "+" hitam di tengah, makan bulatan yang berputar berubah warnanya ke hijau...
Sekarang, konsentrasi ke tanda "+" hitam di tengah-tengah gambar. Dalam waktu yang singkat, pelahan-lahan bulatan pink akan menghilang, dan hanya akan terlihat satu bulatan hijau yang berputar.
Sebenarnya tidak ada bulatan hijau, dan bulatan pink sebenarnya juga tidak menghilang. Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang kita pikir kita melihatnya. Dengan kata lain, kita "melihat" bukan apa adanya, tapi "sebagaimana kita melihat" sesuatu...Wallahu A`lam.
Seperti orang barat, hanya melihat dari satu sisi, fisik (empirik) saja. Namun, selain itu ada lagi satu sisi  lagi yang tidak mereka gunakan untuk melakukan persepsi dalam kehidupan ini, yaitu sisi psikis (rohani). Dua sisi, seperti mata uang. Tak dapat dipisahkan, bagai dunia dan akhirat. Islam hadir seseai dengan fitrah manusia, apa adanya, dan sebagai rahmatan lil`alamin.
Subhanallah...
Dari gambar di atas...sangat mengagumkan cara otak kita melakukan persepsi. Melaui proses apa persepsi itu? Aspek apa saja yang berfungsi dalam persepsi. Apakah hanya otak saja yang berfungsi? Ya, kata psikologi Barat, semua bentuk perilaku kita, baik disadari tau tidak disadari, sehat dan sakit, mapun gejala psikis lainnya itu bermula dari kognisi (proses persepsi di otak). Makanya dalam dunia psikologi  saat ini marak berkembang terapi dengan pendekatan kognitif.
”Afala ya tadabbarun, afala yatafakkarun, .....afa la yasykurun”
Tapi, apakah mereka tidak memperhatikan, bagaimana proses itu terjadi?  Itu berawal dari Indera kita yang berfungsi menangkap rangsang/ stimulus baik dari dalam diri kita maupun dari luar. (Sebenarnya indera itu bukan hanya mata, telinga yang tampak saja secara fisik, atau lima indera yang kita kenal, tapi juga fuad (hati-qalb) itulah indera sejati). Kita lihat bayi...indera yang paling peka pada bayi adalah telinga, selanjutnya mata dan bagian taerakhir hati. Makanya nabi Muhammad SAW menganjurkan bagi para ayah untuk menganzankan dan mengqomatkan anaknya pada telinga.  Namun setelah bayi itu dewasa, maka indera hatilah yang dominan dan paling penting. Banyak orang dewasa yang tersesat karena buta hati.
Lihat bukti kenenaran itu:
”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu (indera) pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.  (QS. An-Nahal; 78).
Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, (memberi indera) pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur .
(QS.
Al-Mu`minun: 78).
Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.
(QS.
Al-Mulk: 23)
Akhi...
Lalu dengan fungsinya, indera itu mengantarkan sinyal stimulus ke otak. Nah, dengan mudah otak lalu memberi makna tentang arti stimulus itu. Makanya, kita  dapat mengatakan itu pahit pada lidah kita, warna putih dan terang pada lampu, melihat air di daerah yang panas (ilusi-fatamorgana). Dan itu pula yang menyebabkan mengapa seseorang bisa berpersepsi negatif (prasangka) pada orang lain.
 Pertanyaannya sekarang........
Bagaimana jadinya kalau indera itu tidak dapat berfungsi dengan baik? Misalnya, pada  mata dan telinga mengalami gangguan, atau bahkan hati.....
Mampukah otak memberi makna dan melakukan persepsi dengan tanpa indera yang sempurna? Jawabannya pasti tidak.

Untuk itu,  agar indera dapat berfungsi dengan baik maka pemiliknya harus pandai bersyukur.
Tapi......
Banyak orang memilki indera (bahkan secar fisik itu normal), tapi tidak memfungsikannya dengan benar. Persepsi dapat dilakukan, tapi hanya sebatas fisik belaka.  Mungkin proses persepsi itu merupakan kegiatan yang berjalan secara alamiah dan merupakan proses otomatis, sehingga setiap orang hampir tidak menyadarinya....dan sehingga ia kufur, tidak mau mau mengetahui dari mana nikmat indera itu! Atau ia memang tidak mau bersyukur dan beriman. Astagfirullah.....
Saudaraku...kita jangan seperti mereka....
Mereka telah dewasa, tapi meka buta hati. Jika mata buta dan telinga tak berfungsi. Maka masih dapat dibantu dengan alat, berupa tongkat dan alat sensor pendengar.  Namun, jika indera hati yang rusak, apa yang  bakal terjadi? Apa dampaknya dan apa obatnya?
Lihat ayat ini:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj; 49)
 Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah: 7)
 
Lihat pula bukti gambar ini, akibat indera hati yang buta. Rusaklah tatanan moral, etika dan tidak berharganya martabat manusia. Mereka seperti binatang,
bahkan, bahkan lebih!

Lihat bukti ayat ini tentang perilaku mereka:
 Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(QS. Al-A`raf : 179).

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul