English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 12 Juni 2010

Ketika Air Tiada


Pada zaman dahulu,  Kidir,  Guru  Musa,  memberi  peringatan
kepada  manusia.  Pada  hari  tertentu,  katanya,  semua air
didunia yang  tidak  disimpan  secara  khusus  akan  lenyap.
Sebagai  gantinya  akan  ada air baru, yang mengubah manusia
menjadi gila.

Hanya  seorang  yang  menangkap  makna  peringatan  itu.  Ia
mengumpulkan  air  dan  menyimpannya  di  tempat  yang aman.
Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu.

Pada  hari  yang  dipastikan  itu,  sungai-sungai   berhenti
mengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orang
yang  menangkap  makna  peringatan  itupun  pergi   ketempat
penyimpanan dan meminum airnya.

Ketika  dari  tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan air
terjun kembali memuntahkan air, orang itu pun  menggabungkan
dirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka itu
kini berpikir dan berbicara dengan  cara  sama  sekali  lain
dari  sebelumnya;  mereka  tidak  ingat lagi apa yang pernah
terjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah  mendapat
peringatan.   Ketika  orang  itu  mencoba  berbicara  dengan
mereka,   ia   menyadari   bahwa   ternyata   mereka   telah
menganggapnya  gila.  Terhadapnya,  mereka  menunjukkan rasa
benci atau kasihan, bukan pengertian.

Mula-mula orang itu tidak mau minum air  yang  baru;  setiap
hari   ia   pergi  ke  tempat  persembunyiannya,  minum  air
simpanannya. Tetapi, akhirnya ia  memutuskan  untuk  meminum
saja  air  baru itu; ia tidak tahan lagi menderita kesunyian
hidup; tindakan dan pikirannya sama  sekali  berbeda  dengan
orang-orang  lain.  Ia  meminum  air  baru  itu, dan menjadi
seperti yang lain-lain. Ia pun  sama  sekali  melupakan  air
simpanannya,  dan rekan rekannya mulai menganggapnya sebagai
orang yang baru saja waras dari sakit gila.

Catatan

Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, Dhun-Nun, seorang
Mesir   (meninggal  tahun  860),  selalu  dihubung-hubungkan
dengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia.  Ia  adalah  tokoh
paling  awal  dalam  sejarah Kaum Darwis Malamati, yang oleh
para ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang erat
dengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, Dhun-Nun
berhasil menemukan arti hieroglip Firaun.

Versi ini dikisahkan  oleh  Sayid  Sabir  Ali-Syah,  seorang
ulama Kaum Chishti, yang meninggal tahun 1818.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul