English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 31 Juli 2010

Keperluan Mendesak


KEPERLUAN YANG MAKIN MENDESAK

Pada suatu malam seorang  penguasa  tiran  Turkestan  sedang
mendengarkan   kisah-kisah  yang  disampaikan  oleh  seorang
darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.

"Kidir,"  kata  darwis  itu,   "datang   kalau   diperlukan.
Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan
menjadi milik Paduka,"

"Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?"

"Siapa pun bisa," kata darwis itu.

"Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang  Raja;  dan  ia
pun mengedarkan pengumuman:

"Siapa  yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,
akan kujadikan orang kaya."

Seorang lelaki miskin dan tua yang  bernama  Bakhtiar  Baba,
setelah  mendengar  pengumuman  itu,  menyusun akal. Katanya
kepada istrinya,

"Aku punya rencana. Kita akan segera kaya,  tetapi  beberapa
lama  kemudian  aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab
kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya."

Kemudian Bakhtiar menghadap raja  dan  mengatakan  bahwa  ia
akan  mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja
bersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bisa
menemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kali
seribu keping uang emas ini. Kalau  gagal,  kau  akan  mati,
dipancung  ditempat  ini  sebagai peringatan kepada siapapun
yang akan mencoba mempermainkan rajanya."

Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang  dan  memberikan
uang  itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa
hidupnya yang tinggal empat puluh hari  itu  dipergunakannya
untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.

Pada  hari  keempat  puluh  ia menghadap raja. "Yang Mulia,"
katanya, "kerakusanmu  telah  menyebabkanmu  berpikir  bahwa
uang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang,
tidak  akan   muncul   oleh   panggilan   yang   berdasarkan
kerakusan."

Sang   Raja   sangat   marah.  "Orang  celaka,  kalau  telah
mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini  berani  mencampuri
keinginan seorang raja?"

Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu
Kidir,  tetapi  pertemuan  itu  hanya  akan  ada  manfaatnya
apabila  maksud  orang  itu benar. Mereka bilang, Kidir akan
menemui orang selama ia  bisa  memanfaatkan  saat  kunjungan
itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya."

"Cukup   ocehan  itu,"  kata  Sang  Raja,  "sebab  tak  akan
memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal  meminta  para  menteri
yang  berkumpul  di  sini agar memberikan nasehatnya tentang
cara yang terbaik untuk menghukummu."

Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata,  "Bagaimana  cara
orang itu mati?"

Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai
peringatan."

Menteri Kedua,  yang  berbicara  sesuai  urutannya  berkata,
"Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya."

Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu,
agar ia  tidak  lagi  mau  menipu  demi  kelangsungan  hidup
keluarganya."

Sementara  pembicaraan  itu  berlangsung,  seorang bijaksana
yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orang
mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi
dalam dirinya."

"Apa maksudmu?" tanya Raja.

"Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi  ia
berbicara  tentang  panggang-memanggang.  Menteri Kedua dulu
tukang  daging,  jadi  ia  bicara  tentang   potong-memotong
daging.   Menteri  Ketiga,   yang   telah  mempelajari  ilmu
kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.

Catat dua hal ini. Pertama,  Kidir  muncul  melayani  setiap
orang  sesuai  dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan
kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini--yang kuberi  nama
Baba  karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaan
untuk  melakukan  tindakan  tersebut.  Keperluannya  semakin
mendesak sehingga akupun muncul didepanmu."

Ketika  orang-orang  itu  memperhatikannya,  orang  tua yang
bijaksana itupun lenyap  begitu  saja.  Sesuai  dengan  yang
diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada
Bakhtiar. Menteri Pertama  dan  kedua  dipecat,  dan  seribu
keping  uang  emas  itu  dikembalikan  ke  kas kerajaan oleh
Bakhtiar dan istrinya.

Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi
antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib.

Catatan

Konon,  Bakhtiar  Baba  adalah  seorang  Sufi bijaksana yang
hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di  Korasan,
sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.

Kisah ini,  dikatakan  juga terjadi atas sejumlah besar Syeh
Sufi  lain,  menggambarkan  pengertian  tentang  terjalinnya
keinginan  manusia  dengan "makhluk" lain.  Kidir  merupakan
penghubung antara keduanya.

Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin
Rumi:

Peralatan  baru  bagi  pemahaman  akan ada apabila keperluan
menuntutnya.

Karenanya, O manusia, jadikan  keperluanmu  makin  mendesak,
sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.

Versi   ini   diucapkan   oleh   seorang  guru  darwis  dari
Afganistan.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul