English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Senin, 12 Juli 2010

Kisah antara Mimpi dan Irisan Roti


MIMPI DAN IRISAN ROTI

Tiga  orang  musafir  menjadi sahabat dalam suatu perjalanan
yang jauh dan  melelahkan;  mereka  bergembira  dan  berduka
bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.

Setelah  berhari-hari  lamanya  mereka  menyadari bahwa yang
mereka miliki tinggal  sepotong  roti  dan  seteguk  air  di
kendi.  Mereka  pun  bertengkar  tentang  siapa  yang berhak
memakan dan meminum bekal tersebut.  Karena  tidak  berhasil
mencapai  persesuaian  pendapat,  akhirnya mereka memutuskan
untuk membagi saja makanan dan  minuman  itu  menjadi  tiga.
Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.

Malampun  turun;  salah seorang mengusulkan agar tidur saja.
Kalau besok mereka  bangun,  orang  yang  telah  mendapatkan
mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus
dilakukan.

Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun  ketika  matahari
terbit.

"Inilah   mimpiku,"   kata  yang  pertama.  "Aku  berada  di
tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah  dan
tenang.   Aku   berjumpa   dengan   seorang  bijaksana  yang
mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan  makanan  itu,  sebab
kehidupan  masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas
mendapat pujian."

"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku
jelas-jelas  melihat  segala  masa  lampau dan masa depanku.
Dalam  masa  depanku,  kulihat  seorang  lelaki  maha  tahu,
berkata,   'Kau   berhak   akan   makanan   itu  lebih  dari
kawan-kawanmu, sebab  kau  lebih  berpengetahuan  dan  lebih
sabar.  Kau  harus  cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk
menjadi penuntun manusia."

Musafir ketiga  berkata,  "Dalam  mimpiku  aku  tak  melihat
apapun,  tak  berkata  apapun.  Aku merasakan suatu kekuatan
yang memaksaku  bangun,  mencari  roti  dan  air  itu,  lalu
memakannya   di  situ  juga.  Nah,  itulah  yang  kukerjakan
semalam."

Catatan

Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah
Mohammad  Gwath  Syatari,  yang  meninggal  tahun  1563.  Ia
menulis risalah terkenal, Lima Permata,  yang  menggambarkan
cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi
sihir dan tenaga  gaib,  yang  didasarkan  pada  model-model
kuno.  Ia  merupakan  Guru  yang telah melahirkan lebih dari
empat belas Kaum dan sangat dihargai  oleh  Maharaja  India,
Humayun.

Meskipun  ia  dipuja-puja  beberapa  kalangan  sebagai orang
suci, beberapa tulisannya  dianggap  oleh  golongan  pendeta
sebagai  menyalahi  aturan  suci,  dan oleh karenanya mereka
menuntutnya  agar  dihukum.  Ia  akhirnya  dibebaskan   dari
tuduhan  murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan
pikiran yang  istimewa  tidak  bisa  dinilai  dengan  ukuran
pengetahuan  biasa.  Makamnya  di  Gwalior,  yang  merupakan
tempat ziarah Sufi yang sangat penting.

Alur yang sama juga dipergunakan dalam  kisah-kisah  Kristen
yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul