English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Senin, 12 Juli 2010

Kisah Burung dan Telur


     Zaman  dahulu  ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga
     untuk terbang.  Seperti  ayam,  ia  berjalan-jalan  saja  di
     tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang.
    
     Karena  berbagai  keadaan, ada telur seekor burung yang bisa
     dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu.
    
     Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas.
    
     Burung kecil itu masih memiliki kemampuan untuk terbang yang
     diwarisi  dari ibunya, yang tersimpan dalam dirinya sejak ia
     masih berada dalam telur.
    
     Ia pun berkata kepada orang tua angkatnya, "Kapan  aku  akan
     terbang?"  Dan  burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu
     menjawab, "Cobalah terus menerus  belajar  terbang,  seperti
     yang lain."
    
     Yang  tua  itupun  tidak  tahu  bagaimana  mengajarkan  cara
     terbang  kepada  anak  angkatnya:  ia  bahkan   tidak   tahu
     bagaimana  menjatuhkannya  dari  sarang  agar  bisa  belajar
     terbang.
    
     Dan  aneh  bahwa  burung  kecil  itu  tidak  mengetahui  hal
     tersebut.   Pemahamannya   terhadap  keadaan  terkacau  oleh
     kenyataan bahwa ia merasa berterima kasih kepada burung yang
     telah mengeraminya.
    
     "Tanpa  jasa  itu,"  katanya kepada diri sendiri, "tentu aku
     masih berada dalam telur."
    
     Dan ia juga kadang-kadang berkata  kepada  dirinya  sendiri,
     "Siapa  pun  bisa  mengeramiku,  tentu  bisa juga mengajarku
     terbang. Tentunya hanya soal waktu saja, atau karena usahaku
     yang  tanpa  bantuan, atau karena suatu kebijaksanaan agung:
     ya, ini jawabnya. Tiba-tiba suatu hari aku akan  terbawa  ke
     tahap berikutnya oleh-nya yang telah membawaku sejauh ini."
    
     Catatan
    
     Kisah  ini  terdapat dalam berbagai bentuk dalam versi-versi
     yang berbeda dari karya Suhrawardi,  Awarif  al-Maarõf,  dan
     mengandung pelbagai pesan. Konon, kisah ini bisa ditafsirkan
     secara intuitif sesuai dengan  tahap  kesadaran  yang  telah
     dicapai  oleh  orang yang belajar ilmu Sufi. Yang jelas saja
     kisah ini mengandung nasehat-nasehat,  beberapa  diantaranya
     menekankan dasar dasar utama peradaban modern, antara lain:
    
     "Konyollah   apabila   kita   beranggapan  bahwa  suatu  hal
     mengikuti sesuatu yang lain; anggapan itu  juga  menghalangi
     kemajuan  selanjutnya,"  dan  "Bahwa  sesuatu bisa melakukan
     fungsi  tertentu  tidaklah  berarti  bahwa  juga   ia   bisa
     melakukan lungsi yang lain."

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul