English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 25 Juli 2010

Para Pelayan


PARA PELAYAN DAN RUMAH

Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang
memiliki  sebuah  rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia
sering pergi jauh beberapa waktu lamanya.  Kalau  ia  sedang
pergi,  rumah  itu  diserahkan  pemeliharaannya  kepada para
pelayan.

Salah satu  sifat  para pelayan  itu  adalah  pelupa. Sering
mereka  lupa,  mengapa  berada  dalam rumah itu; demikianlah
mereka  menjalankan  kewajibannya  dengan  mengulang-ngulang
yang  sudah  dikerjakan.  Tidak jarang pula mereka melakukan
pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda  dengan  yang
telah  diberitahukan  kepada  mereka. Hal itu terjadi karena
mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.


Konon, ketika  pemilik  rumah  itu  sedang  bepergian  jauh,
muncullah  sekelompok pelayan, yang berpikir bahwa merekalah
yang memiliki  rumah  itu.  Karena  pengetahuan  mereka  itu
terbatas  pada  dunia sehari-hari saja, mereka merasa berada
dalam  keadaan  yang  bertentangan.  Misalnya  saja,  pernah
mereka  ingin  menjual  rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan
pembeli, karena memang tidak bisa  mengurusnya.  Pada  waktu
yang  lain  orang-orang  datang bermaksud membeli rumah itu,
dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena  para
pelayan  itu  sama  sekali  tidak  tahu menahu tentang akta,
dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.

Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan
bahwa  persediaan  untuk  rumah  senantiasa  muncul  "secara
rahasia," dan perbekalan itu  tidak  cocok  dengan  anggapan
bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.

Petunjuk-petunjuk    untuk    mengurus   rumah   itu   telah
ditinggalkan dalam kamar  si  empunya  rumah--dengan  maksud
agar  bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi,
kamar itu menjadi begitu keramat sehingga tak ada seorangpun
yang  diperbolehkan  memasukinya; dan kamar itu pun dianggap
sebagai  rahasia  yang  tak  tertembus.  Malahan,   beberapa
diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali
tak ada, meskipun mereka melihat  pintunya.  Namun,  tentang
pintu  itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan
dinding belaka.

Begitulah  keadaan para pelayan  rumah  tersebut, yang tidak
mengambil  alih  rumah  itu,  tidak  pula tetap setia kepada
petunjuk semula.

Catatan

Konon, kisah ini sering  sekali  dipergunakan  oleh  syuhada
Sufi  Al-Hallaj,  yang  dihukum  mati  pada tahun 922 karena
diduga mengatakan, "Akulah Kebenaran."

Hallaj  meninggalkan   sejumlah   besar   mistik.   Meskipun
mengandung  bahaya,  banyak  Sufi  dalam  waktu seribu tahun
terakhir ini mengakui  bahwa  Hallaj  adalah  yang  menerima
pencerahan.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul