English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 25 Juli 2010

Tiga Cincin Berlian



Pada zaman dahulu, ada seorang  bijaksana  dan  sangat  kaya
yang   mepunyai   seorang  anak  laki-laki.  Katanya  kepada
anaknya, "Ini cincin permata. Simpanlah sebagai bukti  bahwa
kau  ahli  warisku,  dan  nanti wariskan kepada anak-cucumu.
Harganya mahal, bentuknya indah, dan memiliki kemampuan pula
untuk membuka pintu kekayaan."

Beberapa   tahun   kemudian,  Si  Kaya  itu  mempunyai  anak
laki-laki  lagi.  Ketika  anak  itu  sudah  dewasa,  ayahnya
memberi pula cincin serupa, disertai nasehat yang sama.

Hal  yang  sama  juga  terjadi  atas  anak laki-lakinya yang
ketiga, yang terakhir.

Ketika Si  Tua  sudah  meninggal  dan  anak-anaknya  menjadi
dewasa,  masing-masing  mengatakan  keunggulannya sehubungan
dengan cincin yang dimilikinya. Tak ada seorangpun yang bisa
memastikan cincin mana yang paling berharga.

Masing-masing   anak  mempunyai  pengikut,  yang  menyatakan
cincinnya memiliki nilai dan keindahan lebih unggul.

Namun  kenyataan  yang  mengherankan  adalah   bahwa   pintu
kekayaan  itu  selama  ini  masih juga tertutup bagi pemilik
cincin itu, juga bagi  pengikutnya  terdekat.  Mereka  tetap
saja  meributkan hak yang lebih tinggi, nilai, dan keindahan
sehubungan dengan cincin tersebut.

Hanya beberapa orang saja yang mencari pintu kekayaan Si Tua
yang  sudah meninggal itu. Tetapi cincin-cincin itu memiliki
kekuatan magis juga. Meskipun disebut  kunci,  cincin-cincin
itu tidak bisa langsung dipergunakan membuka pintu kekayaan.
Sudah cukup kalau diperhatikan saja, salah  satu  nilai  dan
keindahannya  tanpa  rasa  persaingan  atau rasa sayang yang
berlebihan. Kalau hal itu dilakukan, orang  yang  melihatnya
akan   bisa   mengatakan  tempat  kekayaan  itu,  dan  dapat
membukanya dengan hanya menunjukkan  lingkaran  cincin  itu.
Harta itu pun memiliki nilai lain: tak ada habisnya.

Sementara    itu    para    pembela    ketiga   cincin   itu
mengulang-ngulang  kisah  leluhurnya   tentang   manfaatnya,
masing-masing dengan cara yang agak berbeda.

Kelompok  pertama  beranggapan  bahwa mereka telah menemukan
harta itu.

Yang kedua berpikir bahwa kisah itu hanya ibarat saja.

Yang ketiga menafsirkannya sebagai kemungkinan membuka pintu
kearah masa depan yang dibayangkan sangat jauh dan terpisah.

Catatan

Kisah ini, yang oleh beberapa pihak dianggap mengacu ke tiga
agama:  Judaisme,   Kristen,   dan   Islam,   muncul   dalam
bentuk-bentuk  yang berbeda dalam Gesta Romarzorum dan karya
Boccacio Decameron.

Versi di atas itu konon merupakan jawaban salah seorang guru
Sufi  Suhrahwardi, ketika ditanya mengenai kebaikan pelbagai
agama. Beberapa penanggap beranggapan ada unsur-unsur  dalam
kisah  ini  yang  menjadi  sumber karya Swift, Tale of a Tub
'Kisah sebuah Bak mandi.'

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul