English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 15 Agustus 2010

Pembantaian Tragis di Mesjid Palestina


Pada Ramadhan tahun 1994, di mana 30 orang jamaah subuh syahid ditembak secara membabi buta oleh seorang Yahudi ekstrim, bernama Baruch Goldstein.
Pembantaian itu bukanlah yang pertama dan terakhir yang menodai masjid tersebut. Seorang peneliti Palestina telah mencatat lebih dari 660 kali penodaan sejak tahun 1967 (sejarah masjid awal dijajah) hingga akhir 2000. Ditambah ratusan kali penodaan sering berulang sejak tahun 2000. Peneliti Palestina, Muhammad Deyab Abu Saleh, menjelaskan macam-macam pelecehan dan penodaan seperti pembunuhan, penghinaan, pemukulan, pengumpatan, menghina nama Tuhan dan Islam, mengganggu orang sholat, bahkan dilarang sholat, meletakkan bahan-bahan kimia di air minum, di pintu, di jendela dan sajadah.
Sebenarnya kekhawatiran terbesar Muslim Palestina adalah masjid Al-Ibrahimi yang mungkin akan dijadikan sinagog Yahudi. Ini terbukti dari berbagai macam pelecehan dan penyiksaan warga Yahudi terhadap jama’ah masjid dengan tujuan agar warga menghindar dari masjid tersebut dan tidak menggunakannya lagi.
Zionis juga sudah melarang kaum Muslimin mengumandangkan azan, bahkan melarang melakukan salat di dalam masjid.
Warga Muslim tidak tinggal diam melihat kondisi itu. Mereka sudah memperingatkan dan memprotes hal itu pada pemkot yang notabenenya orang-orang Yahudi. Mereka juga mengancam bila kelak masjid Al-Ibrahimi di kota Al-Khalil Selatan itu berubah menjadi sinagog Yahudi.
Pemerintah Israel sering menutup pintu-pintu gerbang masjid Ibrahimi dan melarang jamaah masuk ke sana dalam banyak kesempatan dan di hari raya Yahudi.
Pada tahun 2009 lalu ratusan pemukim yahudi dari gerakan Yahudi ekstrim menyerang wilayah Ishaqiyah masjid Ibrahimi dan menyelenggarakan ritual Talmoud.

Terakhir pada bulan Februari lalu, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu secara resmi mengumumkan keberadaan Masjid Ibrahim (al-Haram al-Ibrahimi) yang terletak di kota tua Hebron (Khalil) sebagai situs Yahudi. Ini bukti awal yang menguatkan ke khawatiran warga Muslim Palestina.
Pengumuman PM Israel atas status al-Haram Ibrahimi tersebut kian menguatkan kabar Yahudisasi dan rencana pengubahan tempat suci umat Islam dan agama-agama Samawi tersebut menjadi Sinagog.
Selain Masjid Ibrahim, Masjid Bilal bin Rabbah yang terletak di kota Betlehem (Bait Lahm) juga diumumkan sebagai situs Yahudi lainnya. Netanyahu menyatakan bahwa di bawah tanah masjid tersebut terdapat makam Rachel, ibunda Nabi Yusuf.
Surat kabar Israel, Haaretz pada februari lalu menyatakan bahwa pasca diresmikan dan diumumkannya status situs al-Haram al-Ibrahimi dan Masjid Bilal bin Rabbah itu, pemerintahan Israel akan segera bergerak untuk “mengambil alih” dan mengembangkan kedua situs tersebut.
Keputusan PM Netanyahu yang meyahudisasi situs-situs kepurbakalaan Palestina yang sebelumnya berstatus sebagai kepurbakalaan Islam, merupakan bentuk nyata penghinaan Israel kepada Palestina dan Islam.
Yahudi Zionis memang biadab. Jika mereka tidak membutuhkan dan mengklaim masjid-masjid tersebut sebagai warisan sejarah budaya mereka, maka mereka pun melakukan penodaan dan penghancuran seperti yang dilakukan, di sejumlah tempat suci di Safed selama dua tahun ini yang mengalami berbagai macam penodaan.
Diantaranya pencurian terhadap lukisan marmer yang bertuliskan identitas sebuah masjid bernama Zaitun. Disamping pengubahan tempat tersebut menjadi kandang sapi di tingkat pertama dan sebagai gudang tembaga bagi departemen pekerjaan Umum Israel.
Selain itu, makam Safed diubah menjadi tempat penggembalaan kuda. Partai Kadima Israel bahkan menjadikan Masjid Merah yang mempunyai nilai historis yang dibangun Sultan Mamalik al-Zahir Baybars sebagai pusat pemilihan umum saat digelarnya pemilu Knesset tahun lalu.
Masih pada masjid yang sama,  beberapa tahun lalu warga Israel menjadikannya sebagai tempat joget-joget serta pemutaran film cabul.
Tapi yang paling bernilai diantara semua masjid adalah al-Aqsho yang menjadi simbol Islam, bahkan yang pernah menjadi qiblat kaum muslimin ini pun sedang dalam proyek perubahan fungsi yang sama.
Wajar saja jika warga Palestina mengekspresikan kemarahannya terhadap warga Yahudi. Dimana hal ini sering sekali berakhir bentrok dengan polisi Zionis yang mengakibatkan korban yang terus berjatuhan.
Inilah nasib tragis masjid-masjid bersejarah di Palestina, dimana semakin hari semakin habis diakui dan dijadikan objek wisata sebagai warisan arkeologi Yahudi, jika tidak butuh, mereka pun menghancurkannya.
Apa yang akan tersisa jika semua tidak dicegah dan dijaga? Sepertinya yang tersisa hanya nama negeri bernama “Palestina” tanpa bukti sejarah peradaban Islam.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul