English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 04 Agustus 2010

Penyusunan Sejarah

Konon, ada sebuah kota yang  terdiri  dari  dua  jalan  yang

sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan  yang  satu  lagi,  orang-orang
melihat  matanya  berlinang air mata. "Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!"  teriak  seseorang.  Anak-anak  yang  di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.

Yang  sebenarnya  terjadi  adalah  bahwa  darwis  itu  telah
mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan
orang-orang  dewasa  di  kedua  jalan  itu  begitu sedih dan
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu  masih  saling
berebut)   sehingga   mereka  takut  mengusut  sebab-musabah
kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha  bernalar dengan  orang-orang  di
kedua   jalan  tersebut,  menanyakan  mengapa  mereka  tidak
mengusut  sebab-musababnya.  Dalam  keadaan  begitu  bingung
untuk  memahami  yang  dikatakannya  sendiri, beberapa orang
berucap, "Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana."

Kabar burung ini pun menyebar  bagai  kobaran  api  sehingga
orang-orang  di  jalan  ini beranggapan orang-orang di jalan
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa,  masing-masing  masyarakat
memutuskan  untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,
akhirnya kedua jalan di kota itu  sama  sekali  ditinggalkan
penghuninya.

Kini,  beberapa  abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;
tidak  berapa  jauh  darinya   terdapat   dua   buah   desa.
Masing-masing   desa   mempunyai  kisahnya  sendiri  tentang
bagaimana mula-mula rakyatnya  mengadakan  perpindahan  dari
sebuah  kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan
diri dari  malapetaka  tak  dikenal,  pada  masa  yang  jauh
lampau.

Catatan

Dalam   ajaran   kejiwaannya,  para  Sufi  menyatakan  bahwa
penyampaian  pengetahuan  secara  biasa  mudah   menyebabkan
kekeliruan  karena  adanya  penambahan  atau pengurangan dan
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu  tidak
bisa  dipergunakan  sebagai pengganti persepsi langsung atas
kenyataan.

Kisah yang  menggambarkan  subyektivitas  otak  manusia  ini
dikutip dari buku  pelajaran Asrar-i-Khilwatia 'Rahasia Para
Pertapa,'  karangan  Syeh  Qalandar   Syah,   anggota   Kaum
Suhrawardi,  yang  meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,
Pakistan.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul