English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 03 April 2011

Tafakur Hikmah

Tafakur


Pengalaman hidup ini mengajarkan kepada kita bahwa setinggi apa pun posisi yang bisa diraih, tidak akan menjadi jaminan bahwa kita tidak akan pernah jatuh.


Seperti halnya balon, kemampuan terbang ruhani manusia menuju kesucian langit sangat dipengaruhi oleh kemampuannya mengendalikan daya tarik bumi.


Allah yang Maha Sayang, melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya, kerap mengingatkan kita melalui ayat-ayat Alquran tentang ’danau’ indah yang punya pengaruh sangat buruk untuk manusia.


Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita.


Ada dahaga ruhani ketika kehidupan di negeri ini kian jauh dari kepuasan jiwa. Orang menjadi begitu jatuh cinta dengan dunia materi, dan tidak lagi perduli dengan orang-orang di sekitarnya.


Dalam dunia pendidikan dan organisasi di sekitar kita, tidak jarang didapati cara instan ’menerbangkan’ para murid dan kader ke puncak prestasi. Dengan sedikit menggosok-gosok, mereka pun melesat ke atas.


Ketika seseorang memandang suatu yang sangat tinggi dalam dirinya, bahkan melampaui orang-orang di sekitarnya; sebenarnya ia sedang memandang dunia dari sisi yang teramat sempit.


Mengejar karir yang terus menaik, jabatan-jabatan tinggi, kerap membuat sebagian kita terbius dengan obsesi yang tidak pernah mengenal puas itu.



Dalam dunia persaingan, baik individu maupun organisasi, ada orang atau pihak yang mengambil strategi berada di bawah bayang-bayang yang besar, kuat, dan ditakuti.


Sang Pemilik kehidupan memberikan kebebasan bagi kita untuk memilih: mau bebas atau ’terpenjara’ dalam aturannya.


Tanpa disadari, kerap orang sering merasa senang memikul beban jiwa yang semestinya tidak perlu ia pikul.


Kesan dan pengalaman yang pernah terlalui kadang menjadi bayang-bayang yang mengusik pandangan seseorang untuk melihat kedepan.


Menjadi pemandangan biasa di negeri ini adanya budaya ketidakcocokan antara yang tertulis dengan yang diucapkan.


Dalam tafsiran yang lebih khusus, tidak sedikit dari kita yang ’berkerja’ dalam ibadah kepada Allah swt. hanya sebatas pada kewajiban seorang hamba kepada Khaliqnya.


Hidup ini tak ubahnya seperti lomba maraton tentang kejujuran.


Tidak sedikit tokoh dan pemimpin sebuah wadah organisasi yang kerap kesulitan ketika ingin melakukan sebuah perubahan untuk orang-orang yang bersamanya.


Kalau kita mau bercermin dengan tingkah dan perilaku alam di sekitar kita, begitu banyak pelajaran yang bisa diambil.


Seorang pemimpin yang baik bukan berarti orang yang piawai menelorkan pengikut-pengikut yang setia.


Jika seseorang berada dalam keheningan muhasabahnya. Mungkin ia bisa merasakan bahwa begitu banyak ‘pencuri’ yang sangat dekat dalam keseharian kita.


Ada kalanya, hidup menyuguhkan sisi lain, jauh seperti keadaan yang diinginkan. Saat itulah, fisik dan batin menjadi teramat lelah seperti sehabis berlari dari kejaran pemburu yang menginginkan kematian kita.

Sumber: EraMuslim

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul