English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 04 Februari 2014

Cerita Penuh Hikmah "Fitnah Akhwat"

Bismillah
Pembaca yang budiman pada kesempatan ini kami akan membawakan sebuah cerita berhikmah dari seorang hamba Allah. Semoga saja cerita nyata ini bermanfaat bagi kita semua.Beginilah ceritanya ….
Sebut saja aku Hamba Allah. Ya aku rajin untuk sholat berjamaah, membaca alQuran, mempelajari ilmu-ilmu Islam dan menyebarkan ilmu-ilmu Islam sehingga di mata kawanku aku termasuk orang yang taat beragama. Namun aku tidak tahu apakah aku termasuk orang yang taat di sisi Allah atau tidak.
Fitnah akhwat, ya fitnah akhwat. Walaupun aku rajin untuk mengerjakan beberapa ketaatan, aku pun pernah diterjang badai fitnah ini. Fitnah akhwat itu datangnya beberapa detik saja namun melupakannya butuh waktu yang lama. Setan membisikanku untuk selalu memikirkan seorang akhwat yang aku cinta dan hampir setiap detik aku memikirkannya. Hampir di sekujur perjalanan hidupku selalu terisi oleh bayang-bayang akhwat itu. Seolah hidupku hanya untuk akhwat itu.


Kisah ini bermula ketika aku dan kawan-kawanku melakukan praktek . Ketika itu aku satu kelompok besar dengan seorang akhwat yang bisa dibilang cantik rupanya lagi taat beragama. Hati siapa yang tak ingin untuk menjadikannya sebagai seorang isteri. Hari pertama praktek belum ada rasa cinta, hari kedua dan ketiga mulailah muncul rasa cinta karena aku melakukan komunikasi dengan akhwat tersebut. Awalnya rasa cinta itu hanya setitik saja, namun karena kebodohanku yang mencoba iseng-iseng memikirkannya sebelum tidur membuatku semakin cinta kepadanya. Rasa cinta itu terus tumbuh dan tumbuh sehingga aku semakin cinta kepadanya. Aku mulai tersenyum kepadanya dan dia pun tersenyum kepadaku. Lalu setan membisikkan kepadaku bahwa dia mungkin mencintai aku. Aku amat bodoh dan aku percaya bisikan setan.

Ketika hari terakhir aku praktek , di perjalanan pulang aku terus menghayalkannya. Sepanjang malam perjalanan hanya dia saja yang terpikir. Hingga ketika sudah sampai ke rumah aku bercerita kepada adikku akan akhwat tersebut dan aku tunjukkan fotonya melalui akun elektroniknya. Hari demi hari aku semakin mencintainya. Hayalan demi hayalan mulai setan bangun dalam benakku. Mulai hayalan menikah dengannya, berumah tangga dengannya dan sebagainya.

Ketika itu beberapa hari menjelang Ramadhan, aku merasa cintaku kepada akhwat tersebut semakin menjadi-jadi, aku tak bisa melupakannya barang setitik. Aku mencoba dan mencoba melupakannya namun aku bodoh aku tetap mengikuti bisikan setan. Sehingga mengingat akhwat tersebut menjadi kebiasaanku dan menjadi kesenanganku. Ketika itu akhirnya Ramadhan datang, apa yang terjadi? Apa aku langsung bertobat dan melupakan akhwat tersebut ? Tidak, bahkan aku menyia-nyiakan waktu Ramadhanku untuk berfacebook ria dan riya, aku menulis status demi dilihat dan dilike si akhwat tersebut. Ramadhanku hancur, aku sedikit untuk berdzikir kepada Allah, Ya Allah ampunilah kebodohanku.

Ketika sahur aku tidak mengingat pahala sahur, aku tak banyak berdoa, aku hanya ingat akhwat itu, hanya akhwat itu, seolah dia ada di dekatku makan bersama dalam rumah tangga bersama anak-anak nantinya. Ketika puasa aku tidak memperbanyak dzikir, tidak memperbanyak shalat sunnah, melainkan hanya berbual dengan adikku mengenai akhwat itu, perbualannya hanya sama yaitu “nikah dengan akhwat itu”. Sungguh ini fitnah yang menerjang diriku.

Ketika di pertengahan bulan Ramadhan datanglah temanku dari ibu Kota Negara, dia datang untuk bersilaturahmi, dia bercanda ria denganku. Lalu aku bercerita mengenai karier cintaku, aku bilang kepadanya tentang seorang akhwat yang sholehah yang taat. Lalu dia menebak-nebak dan akhirnya tebakan itu benar bahwa aku suka akhwat itu. Lalu aku pura-pura bodoh saja, aku bilang tidak, tidak aku tidak suka. Lalu kawanku berkata, “ Ah dia itu cantik, si ****** aja suka”, lalu aku pun tersentak diam, aku kaget, aku punya saingan, ya maklumlah aku bukan pribadi yang suka bersaing, aku sangat benci persaingan.  Aku pun menangis dan menggalau seharian penuh.

Ramadhanku semakin hancur saja, aku semakin berbual dengan adikku mengenai akhwat itu, bualannya cuman satu tema yaitu “nikah” dengan akhwat itu. Ramadhan berakhir syawal bersemai, aku malah tambah cinta dengan akhwat itu, tiap detikku, tiap aliran darahku seolah terpikir akan akhwat itu. Bayangkan aku memikirkan dan mengharapkan sesama manusia, alangkah bodohnya aku, akhwat yang kupikirkan paling-paling tak tahu bahwa aku memikirkannya, sedangkan Allah apabila aku berdzikir kepadaNya dalam hatiku Dia Tahu dan Dia balas dengan rahmat dan pahalaNya yang melimpah. Ya Allah ampunilah aku….

Ketika itu perkuliahan akan dimulai, aku pergi ke kampus seminggu sebelum kuliah untuk mengurus adminsitrasi. Aku pergi ke masjid pusat untuk melihat dokumentasi kegiatan. Aku cemburu karena akhwat yang kucintai adalah aktivis sedangkan aku adalah pengangguran. Aku semakin khawatir kalau kalau si akhwat ini cinta dengan yang lainnya yang sesame aktivis. Aku khawatir dan semakin stress aja. Hidupku terasa tidak enak, aku ingin pindah aku ingin pindah, begitulah kebodohanku. Terlebih lagi ketika aku sedang melihat-lihat akun facebooknya, aku melihat dia merepost atau mensiarkan kembali artikel tentang menikah, aku semakin khawatir, jangan-jangan dia sudah menikah. Aku sedih dan hari yang cerah di mataku ibarat hari yang mendung.


Ketika perkuliahan awal tiba aku tidak semangat, tidak seperti biasanya. Hari-hari kuliahku diliputi kehawatiran dan kehawatiran. Ketika aku berjumpa akhwat itu, aku senang namun kekecewaan yang kudapatkan lebih besar, aku tidak tahu mengapa setiap melihatnya aku selalu dirundung sakit hati,namun aku bodoh, aku tidak segera bertaubat. Terlebih lagi ketika dia sedang ber-sms ria menggunakan hpnya, aku semakin tidak nikmat merasakan  hidup ini, aku tidak tenang, aku sedih dan aku galau. Pernah aku tidak bisa tidur semalaman karena aku melihat komentar seorang lelaki yang keren wajahnya pada foto akhwat itu di akun facebook akhwat tersebut,  sakit hatiku, aku ingin menangis, tak kuasa menahan perih.

Ketika itu aku mulai menjadi hamba yang amburadul. Aku sering melihat wajahku, aku merasa wajahku tidak tampan, aku merasa pasti akhwat itu tidak akan mencintaiku. Hingga-hingga aku menyesal dengan apa yang kumiliki. Hidupku tak tenang, terlebih lagi ketika aku melihat teman-teman di kelas akhwat tersebut banyak yang tampan.

Khayalan demi khayalan melandaku, aku menjadi jarang belajar, setiap malam aku hanya menggalau sambil mendengarkan lagu yang melalaikan. Inilah kebodohanku, jelaslah bahwa lagu amat melalaikan, aku tahu hukum lagu bahwa lagu tak boleh dalam Islam, namun aku terjebak dalam jeratan setan yang terkutuk. Lagu semakin banyak kudengar, aku jarang belajar, nilaiku hancur dan aku menjadi tak taat.

Ketika ujian tengah semester berlangsung, aku masih memikirkan akhwat tersebut bahkan sering mengkepo akun facebooknya, apa yang kudapatkan ? aku semakin menyesal dengan apa yang akhwat itu lakukan. Aku menyesal dengan apa yang Allah berikan kepadaku, aku menyesali semuanya. Aku hanya melihat wajahku, bagaimanakah aku. Alangkah bodohnya aku, aku tahu manusia ada kelebihan dan kekurangan, namun setan selalu membisikanku untuk mengeluh dengan kekurangan yang ada pada diriku. Ujian tengah semesterku pun hancur, tidak memuaskanku, ya ini karena kebodohanku.

Waktu demi waktu berjalan, aku mulai memperbaiki diri, aku mulai menenangkan diri dan berpikir jernih akan perjodohan. Aku yakin Allah lah yang memutarbalikkan hati. Hingga pada suatu malam aku merasakan ketenangan, aku merasakan nikmatnya berdzikir. Aku mulai berhenti mencintai akhwat itu setelah aku sadar bahwa status akhwat tersebut banyak dilike oleh laki-laki. Aku semakin tak tenang dan aku putuskan supaya hidupku tenang dan nyaman aku mahu berhenti mencintai akhwat itu.

Aku sadar bahwa selama ini aku mencintai akhwat tersebut bukan karena ketaatanya kepada Allah, namun karena nafsuku belaka. Hal itu terbukti ketika ada seorang akhwat yang lebih taat daripada akhwat tersebut  malah aku tidak mencintainya hanya karena kecantikan rupanya yang kurang. Padahal iman yang sesungguhnya adalah mencintai dan membenci karena Allah

Memang boleh mencintai wanita karena kecantikannya namun lihatlah dulu bagaimana agamanya. Akhirnya pada  suatu malam Allah menurunkan petunjukNya kepadaku sehingga aku tersadar dan merasakan ketenangan. Alangkah indahnya mencintai karena ketaatannya kepada Allah. Aku mengambil hikmah bahwa belum tentu apa yang kita inginkan bisa membuat kita bahagia, nikmatilah hidup ini, syukurilah apa yang ada pada hidup kita. Aku bertekad untuk mencari akhwat yang baik agamanya dan dalam mencintainya bisa membuatku tenang. Ketenangan adalah kenikmatan yang amat berharga, apalah daya apabila harta segunung namun hidup tak tenang barang setali kangkung.

Nah begitulah kisahnya kawan, bagaimana kisahnya ? menarik atau ngebosenin ? Ya silahkan dijawab. Hehehe… intinya mah jangan banyak berkhayal, jangan sering ngepoin facebook orang, dan pilihlah akhwat yang dalam mencintainya membuat hati kita tenang. Cerita ini memang benar nyata terjadi dari seseorang yang dirahasikan namanya. Ambil saja hikmah di balik cerita ini, semoga bermanfaat.
Allaahua’lam bis shawab.

sumber

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul