Pages

Ads 468x60px

Kisah sufi Bird of Hindie


                   BURUNG INDIA

Seorang saudagar memelihara burung dalam  sangkar.  Ia  akan
berangkat  ke  India,  tanah asal burung itu, dan menanyakan
barangkali binatang itu meminta oleh-oleh dari sana.  Burung
itu  meminta  kebebasannya,  tetapi  ditolak.  Karena itu ia
minta saudagar itu pergi ke hutan di India, lalu mengabarkan
tentang  keadaannya yang dalam kurungan kepada burung-burung
lain yang masih bebas.

Saudagar itu pun melaksanakan pesan tersebut, dan begitu  ia
mengucapkan kata-katanya, seekor burung serupa dengan burung
piaraannya jatuh dari sebuah pohon,  tak  sadarkan  diri  di
tanah.

Si  Saudagar  berpendapat  bahwa itu tentulah saudara burung
piaraannya,  dan  iapun  merasa  sedih   telah   menyebabkan
kematiannya.

Kisah Burung dan Telur


     Zaman  dahulu  ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga
     untuk terbang.  Seperti  ayam,  ia  berjalan-jalan  saja  di
     tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang.
    
     Karena  berbagai  keadaan, ada telur seekor burung yang bisa
     dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu.
    
     Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas.
    
     Burung kecil itu masih memiliki kemampuan untuk terbang yang
     diwarisi  dari ibunya, yang tersimpan dalam dirinya sejak ia
     masih berada dalam telur.
    
     Ia pun berkata kepada orang tua angkatnya, "Kapan  aku  akan
     terbang?"  Dan  burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu
     menjawab, "Cobalah terus menerus  belajar  terbang,  seperti
     yang lain."
    

Kisah Sufi Bayazid


BAYAZID DAN ORANG YANG MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI

Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid,  seorang
ahli  mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah
berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga  puluh
tahun  namun  tidak  juga  menemukan kesenangan seperti yang
digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu  bisa  saja
melanjutkan   perbuatannya   tiga  ratus  tahun  lagi  tanpa
mendapatkan kesenangan juga.

"Mengapa begitu?" tanya Si Sok-Saleh.

"Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu."

"Coba katakan apa obatnya."

"Obatnya tak akan bisa kau laksanakan."

"Bagaimanapun, katakan sajalah."

Bayazid pun berkata, "Kau  harus  pergi  ke  tukang  pangkas
rambut  untuk  mencukur  janggutmu,  (yang  terhormat, itu).
Lepaskan semua pakaianmu  dan  kenakan  korset.  Isi  sebuah
kantong  kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan di
lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, 'akan kuberikan
sebutir  kenari  kepada setiap anak yang memukul tengkukku.'
Kemudian lanjutkan perjalananmu ke  sidang  pengadilan  agar
semua orang menyaksikanmu."

"Tetapi  aku  tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lain
yang sama manfaatnya."

"Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara," kata  Bayazid,
"Tetapi  sudah  aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisa
melakukannya; jadi tak ada obat bagimu."

Catatan

Al-Ghazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan  ibarat
ini untuk menekankan pernyataan yang sering diulang-ulangnya
bahwa  sementara  orang,  betapapun  jujur  tampaknya  usaha
mencari  kebenaran  itu  bagi  dirinya  sendiri  -dan bahkan
mungkin juga bagi orang lain- nyatanya kadang-kadang didasari
kesombongan   atau  mencari  untung  sendiri,  hal-hal  yang
merupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya.