Pages

Ads 468x60px

Keindahan Musholla Ar Raudhah (Sekumpul)









Musholla Ar Raudhah Sekumpul. Disinilah biasanya para jamaah dari kalangan Habaib maupun Jaba berkumpul dalam satu majlis ilmu, yang hadir baik dari Martapura (Kalimantan Selatan) sendiri maupun luar daerah seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Tengan, Kalimantan Barat hingga dari luar Kalimantan berkumpul untuk mengikuti pengajian (pembacaan kitab) yang dipimpin oleh Al ‘Alimu ‘Allamah Al ‘Arif Billah Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari (Guru Sekumpul) ulama besar dari Kalimantan Selatan, tak ketinggalan para Habaib dari tarim Hadral maut juga sering datang untuk hadir dan bertemu dengan Ulama Besar ini, ketika beliau masih hidup Mushola ini merupakan sentra utama dakwah di Martapura dan sekitarnya. Selain pembacaan kitab ilmu Tauhid, Fiqih dan Tasawwuf diadakan juga Maulid Habsyi (malam senin), dan Burdah (malam jum’at) yang masih berjalan hingga sekarang, majlis Burdah dan Habsyian di Musholla Ar Raudhah Sekumpul tetap dihadiri oleh banyak jamaah dari Martapura dan sekitarnya hingga memadati halaman Mushola dan rumah warga di Komplek Sekumpul Martapura, walaupun guru yang tercinta sudah wafat, namun magnet kecintaan kepada Rasulullah SAW yang di wariskan oleh beliau tidak akan pernah pudar di hati para jamaah. Menjelang Ramadhan yakni pada malam 15 bulan Sya’ban Majlis Habsyian dan Burdah diliburkan untuk sementara bulan Ramadhan sampai hari keenam setelah Hari raya Idul Fitri, karena akan dilakukan sholat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan




 BONUS






 Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan.













Menjelang Akhir Ramadhan


Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…
Segala puji bagiMu ya Rabb… yang masih memberi peluang kepada kami menghirup udaraMu, Tanpa jemu Kau membiarkan kami menikmati semua nikmat-nikmatMu ya Allah. Selawat dan salam buat Rasul junjungan yang mulia, para sahabat, ahli keluarga baginda dan para tabi-tabi’in.
Hadis Rasulullah yang berbunyi :Dan ia ( Ramadhan) adalah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah ( ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.
Focus perkongsian kita pada kali ini ialah Fasa akhir Ramadhan yang hanya akan muncul dalam beberapa hari saja lagi. iaitu Fasa Pelepasan dari neraka.
Ya, di akhir Ramadhan adalah fasa dilepaskan diri daripada api neraka. Persoalannya disini, apakah perasaan kita apabila Allah mengatakan akan melepaskan kita dari neraka?
Tak rasa apa-apa? Kenapa duhai teman? Mengapa kita tidak merasa gembira dan bahagia?
Sedangkan apabila kita dilepaskan daripada saman sebagai contoh apa perasaan kita? Bayangkanlah kalian hampir-hampir kena saman tapi dengan budi bicara polis traffic, kalian dilepaskan daripada kena saman. Apa yang kalian rasa? Gembira bukan? Selamat duit aku…hee
Tapi, mengapa kita tidak merasa apa-apa dengan janji Allah? Bukankah dilepaskan dari neraka bermakna dimasukkan dalam syurga?
Kini, ramadhan telah masuk akhir fasa kedua iaitu fasa maghfirah. Pejam celik kita sudah hampir ke penghujung Ramadhan. Sudah hampir ke fasa akhir iaitu pelepasan daripada neraka. Tidak terujakah kalian?
Bagaimana amalan-amalan kalian di pertengahan Ramadhan ini? Bagaimana ibadah-ibadah kalian menjelang akhir Ramadhan? Semakin meningkat atau semakin surutkah?
Kalian tidak mahu mengejar maghfirahNya?
Kalian tidak mahu dilepaskan dari neraka?
Kalian tidak mahu masuk Syurga?
Sudah tentu mahu bukan? Oleh itu, duhai teman-teman sekalian, marilah kita sama-sama meniupkan semula aura ibadah dalam diri kita. Mari kita sama-sama memburu maghfirah Allah, Marilah kita berusaha agar kita tergolong dalam kalangan mereka yang dilepskan dari neraka.
Moga syurga milik kita. Amin ya Rabbal Alamin.
Tapi harus diingat, Syurga Allah itu hebat dan hanya menerima mereka yang hebat-hebat belaka. Hebatkah kita? Hebatkah amalan-amalan dan ibadah-ibadah kita? Cukupkah sudah amalan-amalan kita? Layakkah kita masuk syurga Allah yang hebat itu?
Ayuh duhai teman.. Bangkitlah daripada kelekaan dan kealpaan..! Sama-sama kita semarakkan akhir Ramadhan, sama-sama kita berusaha untuk memperhebatkan diri dan menambah nilai ibadah-ibadah kita di penghujung Ramadhan yang mulia ini.
Ramadhan semakin meninggalkan kita, mengapa harus kita Persia-siakannya?
Jika seseorang sudah diberitahu oleh doktor yang dia tidak punya banyak masa lagi untuk hidup, dia akan menghabiskan seluruh masanya dengan keluarga tersayang bukan?. Begitulah juga Ramadhan. Ramadhan tetamu yang kita sayangi ini semakin meninggalkan kita. Maka kita seharusnya menghabiskan seluruh masa kita untuk bersama dengan Ramadhan. Kita harus lebih menghargai Ramadhan. Kerana siapa tahu, mungkin inilah Ramadhan yang terakhir buat kita?

mujahidahfisabilillah-permata.blogspot.com

Asal Usul Sejarah Bedug


Sejarah Bedug
Bedug senantiasa dikaitkan dengan media panggil peribadatan. Ada pendapat tradisi bedug dikaitkan dengan budaya Cina. Adanya Bedug dikaitkan dengan ekspedisi pasukan Cheng Ho abad ke-15. Laksamana utusan kekaisaran Ming yang Muslim itu menginginkan suara bedug di masjid-masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Ada pula pendapat bedug berasal dari tradisi drum Cina yang menyebar ke Asia Timur, kemudian masuk Nusantara.

Namun menurut Drs M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang yang melakukan studi bedug di Jawa bersama tim Sampoerna Hijau, pada masa prasejarah, nenek moyang kita juga sudah mengenal nekara dan moko, sejenis genderang dari perunggu. Pemakaiannya berhubungan dengan religi minta hujan.

Kata Bedug juga sudah disinggung dalam kidung Malat, sebuah karya sastra berbentuk kidung. Susastra kidung berisi cerita-cerita panji. Umunya ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi. Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik membrafaon bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.

Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya. Dibunyikan pula untuk menandai tibanya waktu. Maka ada istilah dalam bahasa Jawa: wis wanci keteg. Artinya ”sudah waktu siang” yang diambil dari waktu saat tegteg dibunyikan.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.

Kendati demikian, pengaruh Cina pun tidak dinafikan. Ditilik dari sisi konstruksi, teknik pemasangan tali/pasak untuk merekatkan selaput getar ke resonator pada bedug Jawa, mirip pada cara yang digunakan pada bedug di Asia Timur seperti Jepang, Cina, atau Korea. Bukti lain terlihat pada penampilan arca terakota yang ditemukan di situs Trowulan. Arca-arca prajurit berwajah Mongoloid itu tampak menabuh tabang-tabang, sejenis genderang yang terpengaruh budaya timur tengah. Kemungkinannya itulah instrumen musik yang dimainkan orang-orang Cina Muslim di ibukota Majapahit.

Menariknya, tabang-tabang sebenarnya merupakan instrumen musik yang sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Di dalamnya ada pengaruh kuat dari India dan budaya Semit beragama Islam. Namun diperkenalkan dan dimainkan oleh masyarakat Cina Muslim.

Jadi, bedug bisa dikatakan contoh perwujudan akulturasi budaya waditra (instrumen musik membrafon, di mana secara fisiografis terjadi perpaduan antara waditra membrafon etnik Nusantara dengan wadistra sejenis dari luar seperti India, Cina, dan Timur Tengah.

Pada Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin Kalimanatan Selatan 1936 kembali mengukuhkan penggunaan Beduk dan kentongan, bahwa pemakaian kedua alat tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam. Dengan adanya keputusan itu serangan Islam modernis bisa dieliminir, dan tradisi pemakaian beduk terus dipertahankan.

Pada masa orde baru ketika organisasi NU mulai ditekan sementara Islam modernis mulai mendapat tempat, maka ”debedukisasi” dilakukan, sehingga banyak beduk-beduk bersejarah yang hilang dan sebagian besar digudangkan. Kemudian dikembangkan program speakerisasi, sehingga hampir tiap masjid yang sudah dihilangkan beduknya diganti dengan memasang speaker di menara atau di kubah. Hanya dilingkungan masjid Nu dan kelompok Islam bermazhab seperti Perti, Al Washliyah, Mathlaul Anwar dan sebagainya, atau mesjid yang belum diambil oleh kelompok Islam modernis tetap memakai beduk. Hal itu menadji petanda masjid yang dikelola oleh Islam bermazhab dengan Islam modernis yang tidak bermazhab.
Cara Pembuatan Bedug

Pada awalnya, kambing atau sapi dikuliti. Kulit hewan yang biasa dibuat sebagai bahan baku bedug antara lain kulit kambing, sapi, kerbau, dan banteng. Kulit sapi putih memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kulit sapi coklat.

Sebab, kulit sapi putih lebih tebal dari pada kulit sapi coklat, sehingga bunyi yang dihasilkannya akan berbeda disamping, keawetannya yang lebih rendah. Kemudian, kulit tersebut direndam ke dalam air detergen sekitar 5-10 menit.

Jangan terlalu lama agar tidak rusak. Lalu, kulit dijemur dengan cara dipanteng (digelar) supaya tidak mengerut. Setelah kering, diukur diameter kayu yang sudah dicat dan akan dibuat bedug. Seteleh selesai diukur, kulit tersebut dipasangkan pada kayu bonggol kayu yang sudah disiapkan.

Proses penyatuan kulit hewan dengan kayu dilakukan dengan paku dan beberapa tali-temali. Pertanyaannya, adakah didaerah anda yang Masjidnya masih menggunakan bedug, karena disaentero pelosok, sudah banyak berganti dengan Speaker.
Permainan/Kesenian Bedug
1.Seni Ngadulag
Seni ngadulag berasal dari daerah Jawa Barat. Pada dasarnya, bedug memiliki fungsi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tabuhan bedug di tiap-tiap daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya, sehingga menjadikannya khas. Sehingga lahirlah sebuah istilah “Ngadulag” yang menunjuk pada sebuah keterampilan menabuh bedug. Kini keterampilan menabuh bedug telah menjadi bentuk seni yang mandiri yaitu seni Ngadulag (permainan bedug). Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah kompetisi untuk mendapatkan penabuh bedug terbaik. Kompetisi terbagi menjadi 2 kategori, yaitu keindahan dan ketahanan. Keindahan mengutamakan irama dan ritme tabuhan bedug, sedangkan ketahanan mengutamakan daya tahan menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh bedug. Kompetisi ini diikuti oleh laki-laki dan perempuan. Dari permainan inilah seni menabuh bedug mengalami perkembangan. Dahulu, peralatan seni menabuh bedug hanya terdiri dari bedug, kohkol, dan terompet. Tapi kini peralatannya pun mengalami perkembangan. Selain yang telah disebutkan di atas, menabuh bedug kini juga dilengkapi dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal.
2.Seni Rampak Bedug
Rampak Beduk merupakan sajian instrumen berupa perkusi, yang ditingkahi suara bedug berbagai ukuran. Ada empat bedug diikat kain merah biru, yang dipukul oleh pemain yang berdiri di tengah. Di pinggirannya, kelompok musik menimpali dengan bedug berbagai ukuran. Sesekali suara terdengar dari mulut para pemainnya, mirip suara musik tiup. Namun, tak ada sajian instrumen tiup. Yang terdengar, suara harmonis antara bedug dan para vokalis tradisi saling menyahut. Seni Rampak Bedug berawal dari kebiasaan penduduk berkeliling kampung sambil memukul bedug kala sahur di bulan puasa. Yang kemudian dijadikan ajang untuk beradu keras memukul bedug. Alhasil terjadilah pertemuan antar mereka, saling beradu kekuatan bedug. Tari Rampak Beduk Banten dimainkan oleh secara masal. Sekilas, gerakannya mirip tarian dari daerah Aceh.
3.Bedug Kerok
Bedug Kerok adalah Kesenian asli Provinsi Banten dari Kampung Yudha, Desa Mander, Kecamatan Bandung, Kabupten Serang. Asal muasalnya seni Bedug Kerok ini tercipta ketika negara ini sedang gonjang-ganjing oleh krisis, yaitu pada tahun 1998 dimana terjadi peralihan pemerintahan dari masa Orde Baru ke masa Reformasi. Pada saat itu terjadi kerusuhan dimana-dimana, pembakaran, penjarahan, penculikan dan lain sebagainya. Rakyat dimana-mana panik, resah dan gelisah, masa itu negara dalam keadaan kacau balau, perekonomian Indonesia jatuh, pengangguran dimana-mana, perusahaan-perusahaan bangkrut dan masih banyak dampak negatif lainnya. Nah, melihat hal itu beliau Bapak M. Jufri Nur mencetuskan suatu ide kesenian dimana supaya rakyatnya menjadi terhibur, sehingga diciptakanlah Bedug Kerok, bedug yang menghibur dengan penari laki-laki berjoged sesuai irama musik bedug dan kohkol/kentongan dengan menggunakan topeng serta mengenakan baju compang-camping. Itulah Bedug Kerok yang kala itu bisa mengalihkan keresahan masyarakat kampung, khususnya Kampung Yudha, Desa Mander. Dan sampai saat ini pun Bedug Kerok masih eksis dan terus dilestarikan dengan berbagai perkembangan.










3.Bedug Kayu Pernis

Bedug Terbesar Didunia
Bedug terbesar di dunia berada di dalam Masjid Darul Muttaqien, Purworejo. Bedug ini merupakan karya besar umat Islam yang pembuatannya diperintahkan oleh Adipati Tjokronagoro I, Bupati Purworejo pertama. dibuat pada tahun 1762 Jawa atau 1834 M. Dan diberi nama Kyai Begelan. Ukuran atau spesifikasi bedug ini adalah : Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter bagian depan 194 cm, diameter bagian belakang 180 cm. Bagian yang ditabuh dari bedug ini dibuat dari kulit banteng. Bedug raksasa ini dirancang sebagai “sarana komunikasi” untuk mengundang jamaah hingga terdengar sejauh-jauhnya lewat tabuhan bedug sebagai tanda waktu salat menjelang adzan dikumandangkan.

Fungsi Bedug
Fungsi sosial : bedug berfungsi sebagai alat komunikasi atau petanda kegiatan masyarakat, mulai dari ibadah, petanda bahaya, hingga petanda berkumpulnya sebuah komuntas. Fungsi estetika : bedug berfungsi dalam pengembangan dunia kreatif, konsep, dan budaya material musikal.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9984771