Pages

Ads 468x60px

Antara Kebenaran dan Dusta

Suatu hari ketika 'Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh.'Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata : "Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu."
"Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu," orang itu berteriak balik. "Baiklah kalau begitu," jawab 'Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu."Apa yang sedang kamu lakukan", tanya orang itu kebingungan."Bukankah saya ini musuhmu?" Ali memandang tepat di matanya dan berkata, "Kamu bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku".
Tetapi orang itu tidak mampu. "Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata," jelas 'Ali. "Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangan kebijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku."
"Inikah cara Islam?" Orang itu bertanya."Ya," jawab 'Ali, "Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik." Dengan segera, orang itu bersujud di kaki 'Ali dan memohon, "Ajarkan aku syahadat."Dan 'Ali pun mengajarkannya, "Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah."
Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. 'Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu. "Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak dengan marah. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka 'Ali. Mulanya 'Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu", Ali menjawab. "Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu."
"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya. "Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan". 'Ali menjelaskan kepadanya. "Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh." "Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?" "Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."
Dengan segera orang itu tersungkur di kaki 'Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.

Kisah Anak Sepasang Bintang

Bunda …, jadah itu artinya apa?”
Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku. Gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun saat itu. “Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya. "Orang-orang menyebutku seperti itu,” jawabku dengan sangat polos. Memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.

Kudengar Bunda menarik nafasnya berkali-kali. Barangkali sibuk merumuskan jawaban yang tepat untuk pertanyaanku yang tak diduganya sama sekali.
“Nanti kalau sudah besar kau akan tahu sendiri jawabannya!” demikianlah akhirnya suara itu yang kudengar sebagai jawaban. Kalau mau jujur tentu aku tidak puas dengan kalimat itu. Tapi aku tidak pernah tega untuk menyakiti Bunda. Kupikir waktu itu mungkin memang Bunda tak tahu tentang apa makna dari kata-kata itu.

Di waktu lainnya aku ajukan pertanyaan lain padanya.
“Bunda …, apa saya punya Ayah?” tanyaku. Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu.
Bunda tertegun begitu lama.
“Kenapa?” Bunda bertanya sambil memandangku dengan matanya yang indah.
“Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” jawabku murung sambil menundukkan kepala.
Ada!” tegas Bunda meyakinkanku.
Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?
Tangan mungil ini kemudian digenggamnya. Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Mengajakku melangkah keluar rumah. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.
“Kau lihat langit di atas sana?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ayahmu ada di sana!” jawab Bunda meyakinkan.
Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana.

Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Rasanya aku telah mendapatkan jawabannya. Barangkali ayahku adalah satu diantara kerlip bintang-bintang itu. Aku tidak merasa sedih lagi. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya. Aku akan mengatakan pada mereka bahwa aku adalah anak sebuah bintang!

* * *

Sejak kecil aku cuma punya Bunda, perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka.

Dengan upah seadaanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya.

Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang. Tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.

Bagiku Bunda telah memberi segalanya padaku. Kecuali satu hal, kepastian tentang siapa orang yang harus kusebut sebagai ayah. Dulu waktu aku kecil aku bisa saja mengatakan aku adalah anak sebuah bintang. Tapi seiring perjalanan waktu dan aku menjadi semakin dewasa, tentu saja ucapan itu tak lagi memadai.
Seiring dengan pertambahan usia aku kian mengerti bahwa setiap orang lahir dari hubungan antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Jelas aku adalah anak seorang manusia. Bukan anak sebuah bintang seperti yang selama ini kutafsirkan.
Beban inilah yang terus kusandang. Pertanyaan tentang siapa lelaki yang mesti kupanggil Ayah yang tak pernah menemukan jawab. Perlahan menjelma jadi sebuah kutukan yang mengiringi perjalanan usiaku.

Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya. Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka.

Aku sendiri akhirnya berusaha melupakan semua persoalan itu sendiri. Menyimpan pertanyaan dan seribu keluh di udara. Membiarkannya berkelana mencari jawab hingga ke tempat bintang-bintang terjauh.

Aku tidak ingin mengecewakan Bunda. Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Dan hasilnya tidak memalukan. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk di bangku SD hingga SMU. Bahkan setiap tahun Bunda tidak perlu repot mencarikan aku biaya karena aku aku selalu meraih beasiswa.
Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Bunda sendiri dalam usianya yang semakin senja. Tapi Bunda bersikeras memaksa.

“Kau harus pergi. Sekolah setinggi-tingginya seperti impian Bunda!”
Maka pergilah aku meninggalkannya sendiri. Bertahun-tahun sudah aku tinggal di kota ini. Pendidikanku telah kuselesaikan dengan memuaskan. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri.

Aku ingin menjemput Bunda. Mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak. Ia ingin tinggal di sana selamanya sampai kematian menjemputnya nanti. Aku sendiri tak bisa mencegahnya. Akhirnya aku tinggal di kota ini. Mengontrak rumah dengan seorang teman untuk mengirit biaya.
* * *
Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.

Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya.

“Kamu kenapa sih? Lelaki shaleh sudah langka, lho …,” tanya Asti. Teman serumahku. Cuma padanya aku bisa cerita.
Asti benar. Tapi beban berat ini …
“Kau takut mereka bertanya tentang keluargamu?” ia bertanya sambil menatap mataku dalam-dalam. Persis seperti Bunda.
Aku mengangguk. Memang ini hal paling menakutkan bagi diriku. Aku sudah dewasa kini. Tak mungkin lagi mengemukakan jawaban seperti ketika aku masih kecil dulu. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang.
“Jangan simpan prasangka pada Bunda. Ndak baik,”

Aku tahu. Tapi perasaan itu memburuku. Aku menduga Bunda menyembunyikan sesuatu yang buruk di masa lalunya dariku, anak satu-satunya. Dan itu terkait dengan keberadaan seorang lelaki yang harusnya kupanggil Ayah. Seorang lelaki yang tak kuketahui meski hanya selembar gambar.
Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayhku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?

“Sejelek apa pun kenyataannya, Bunda tetaplah Bunda!”
Aku tertegun mendengarnya. Kulihat Asti mengeluarkan sebuah kalung dengan mata berbentuk hati dari dalam kotak perhiasannya.
“Kenang-kenangan dari ibuku,” jawabnya seperti paham dengan pertanyaan yang tak kuutarakan. Lama ia menimang perhiasan tersebut sebelum memasukkannya kembali ke kotak perhiasan.

“Di mana ibumu sekarang?”
Ia menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya.
“Aku bahkan tak tahu siapa namanya. Ia meninggalkanku di depan sebuah panti asuhan yang kemudian menjadi rumah bagiku,”
Aku tertegun mendengarnya. Baru kali ini ia menceritakan kisah hidupnya.

“Maaf …!”
Kulihat ia tersenyum.
“Tak apa. Kau beruntung, Sahabat. Meski tak punya seorang ayah kau masih punya Bunda. Perempuan yang katamu tercipta dari seribu kuntum bunga. Aku sendiri tak punya keduanya,” jawabnya tanpa melepas senyum di bibirnya.
Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.

* * *

Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami di kampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit.
“Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!”

Aku jadi sangat cemas karenanya. Asti menyarankan agar aku sebaiknya meminta izin untuk pulang kampung menjenguk Bunda. Mulanya aku ragu. Sebagai seorang karyawan yang belum lama bekerja belum tentu aku mendapat izin. Tapi mereka mengerti dan aku mendapat izin untuk pulang selama dua hari.
Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.

“Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.
“Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja.
“Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”
“Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!”

Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini.

Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah. Aku harus menelpon Asti dan meminta perpanjangan izin di kantor. Tiga hari setelah pemakaman Bunda baru aku kembali ke kota.

Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi pendar jutaan bintang.

Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!

Aku Berjuang Bukan untuk Umar



“Orang seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya ke dalam golongan pemimpin”. (Perkataan Rasulullah tentang Khalid bin Walid).
Entah apa yang ada di benak Khalid bin Walid ketika Abu Bakar menunjuknya menjadi panglima pasukan sebanyak 46.000. Hanya ia dan Allah saja yang tahu kiranya. Khalid tak hentinya beristigfar. Ia sama sekali tidak gentar dengan peperangan yang akan ia hadapi. 240.000 tentara Bizantin. Ia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatan itu. Kaum muslimin tengah bersiap menyongsong Perang Yarmuk sebagai penegakan izzah Islam berikutnya.
Hampir semua tentara muslim gembira dengan penunjukkan itu. Selama ini memang Khalid bin Walid adalah seorang pemimpin di lapangan yang tepat. Abu Bakar pun tidk begitu saja menunjuk pejuang yang berjuluk “Pedang Allah” itu. Sejak kecil, Khalid dikenal sebagai seorang yang keras. Padahal ia dibesarkan dari sebuah keluarga yang kaya. Sejak usia dini, ia menceburkan dirinya ke dalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya ke dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Konon, hanya Khalid bin Walid seorang yang pernah memorak-porandakan pasukan kaum muslimin, semasa ia masih belum memeluk Islam.
Khalid bin Walid sekarang memutar otak. Bingung bukan buatan. Tentara Bizantin Romawi berkali-kali lipat banyaknya dengan jumlah pasukan kaum muslimin. Ditambah, pasukan Islam yang dipimpinya tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjatakan lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Dan mereka akan berhadapan di dataran Yarmuk. Tentara Romawi yan hebat itu berkekuatan lebih dari 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 46.000 orang itu, sesuai dengan strategi Khalid, dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar daripada musuh.
Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab Utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian, depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraclus sebagai ketua tentara Romawi telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan. Romawi juga menggunakan taktik dan strategi tetsudo (kura-kura). Jenis tentara Rom dikenal sebagai ‘legions', yang satu bagiannya terdapat 3000-6000 laskar berjalan kaki dan 100-200 laskar berkuda. Ditambah dengan dan ‘tentara bergajah'. Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.
Tentara kaum muslimin jelas sangat bersuka cita. Semua mengucapkan syujur kepada Allah swt. Namun semua orang juga tertuju kepada sang panglima, Khalid bin Walid. Strateginya telah memberikan kemudahan bagi kaum muslimin. Hampir semua orang menyebut-nyebut dan memuji Khalid bin Walid.
Sisa-sisa perang Yarmuk belum lagi hilang. Kegembiraan kaum muslimin pun belum juga sirna. Di tengah-tengah itu datang lah utusan dari Umar bin Khattab. Umar yang telah menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar merasa khawatir, kekaguman kaum muslimin terhadap Khalid bin Walid terlalu berlebihan. Khawatir akan mempengaruhi perjuangan Khalid. Maka, Umar pun menunjukkan seseorang yang jauh lebih muda daripada Khalid untuk menggantikannya, Abu Ubaidah. Dibandingkan dengan Khalid bin Walid, Abu Ubaidah masih belum apa-apa.
Khalid bin Walid terdiam. Sepenuhnya ia memahami penggantian itu. Ia sama sekali tidak terpengaruh. Orang-orang sempat terdiam ketika panglima besar itu berujar dengan tegas, “Aku berperang bukan untuk Umar. Tapi untuk Islam.” Setelah itu, Khalid terus ikut berjuang membela Islam seperti biasanya. Tidak terpengaruh oleh penurunan pangkatnya. Untuk Islam, hatinya senantiasa ikhlas, karena apapun yang ia lakukan – besar ataupun kecil, jika itu untuk Allah, akan berbuah surga.
Wallahu A' lam bish Shawab