“Assalamu’alaikum imam Syamsi,” kata sang sopir taksi seraya memperkenalkan dirinya dan mengaku bahwa ia sering mengikuti ceramah Syamsi Ali di Masjid Islamic Center of New York.
Itu sekelumit kisah betapa di tengah Kota New York yang dipenuhi orang top dunia, Syamsi Ali menanamkan pesona yang diingat orang.
Kalangan Muslim di New York umumnya cukup mengenal Syamsi Ali sebagai seorang pemuka Islam asal Indonesia. Apalagi dalam lima tahun terakhir ini ia sering tampil dalam forum-forum penting Islam, mulai dari tingkat kota hingga forum yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi di pemerintahan Amerika Serikat.
Kini selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, Syamsi juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim Center, yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas Muslim asal Bangladesh.
Di perwakilan tetap RI untuk PBB, ia masih tercatat sebagai staf bidang humas dan informasi. Dengan tiga posisi tersebut, tentunya Syamsi Ali harus dapat mengatur waktunya secara ketat.
Apalagi selama bulan Ramadan saat ini, nyaris tiap hari ia diminta untuk menyampaikan ceramah atau mengisi kegiatan di berbagai masjid dan forum-forum yang diselenggarakan komunitas Muslim di New York serta kota lainnya di AS.
Pekan ini, Syamsi bersama Dubes RI untuk PBB Rezlan Ishar Jenie berkunjung ke Kingston (ibu kota Jamaika, negara di kawasan Karibia) untuk menjadi pembicara pada seminar di Kingston University mengenai Islam di Indonesia dan Asia.
Di kalangan pers, Syamsi adalah nara sumber utama media-media massa New York terutama dalam menanggapi suatu peristiwa penting, misalnya kasus bom di London bulan Juli lalu.
Munculnya orang Indonesia sebagai pemuka Muslim di New York merupakan suatu hal yang cukup unik, karena meskipun Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun jumlah Muslim asal Indonesia yang berdomisili di kota tersebut relatif sedikit.
Dari sekira 800.000 Muslim di New York, mayoritas adalah keturunan dari Timur Tengah, Asia Selatan (Pakistan dan Bangladesh), dan Afrika. Tiga kelompok mayoritas Muslim tersebut justru sering mempercayai Samsi Ali sebagai pimpinan.
“Terkadang orang yang belum pernah bertemu saya, mengira saya berasal dari tiga kawasan tersebut, tetapi saya selalu memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia,” kata pria kelahiran Bulukumba, Sulsel tersebut.
Mungkin karena pandangannya yang moderat dan pergaulannya yang cukup luas dengan berbagai kalangan termasuk dengan kalangan non-Muslim dan pemerintahan, maka Syamsi diterima oleh kelompok mayoritas utama Muslim di kota itu.
