Pages

Ads 468x60px

Penyusunan Sejarah

Konon, ada sebuah kota yang  terdiri  dari  dua  jalan  yang
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan  yang  satu  lagi,  orang-orang
melihat  matanya  berlinang air mata. "Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!"  teriak  seseorang.  Anak-anak  yang  di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.

Yang  sebenarnya  terjadi  adalah  bahwa  darwis  itu  telah
mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan
orang-orang  dewasa  di  kedua  jalan  itu  begitu sedih dan
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu  masih  saling
berebut)   sehingga   mereka  takut  mengusut  sebab-musabah
kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha  bernalar dengan  orang-orang  di
kedua   jalan  tersebut,  menanyakan  mengapa  mereka  tidak
mengusut  sebab-musababnya.  Dalam  keadaan  begitu  bingung
untuk  memahami  yang  dikatakannya  sendiri, beberapa orang
berucap, "Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana."

Kabar burung ini pun menyebar  bagai  kobaran  api  sehingga
orang-orang  di  jalan  ini beranggapan orang-orang di jalan
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa,  masing-masing  masyarakat
memutuskan  untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,
akhirnya kedua jalan di kota itu  sama  sekali  ditinggalkan
penghuninya.

Kini,  beberapa  abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;
tidak  berapa  jauh  darinya   terdapat   dua   buah   desa.
Masing-masing   desa   mempunyai  kisahnya  sendiri  tentang
bagaimana mula-mula rakyatnya  mengadakan  perpindahan  dari
sebuah  kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan
diri dari  malapetaka  tak  dikenal,  pada  masa  yang  jauh
lampau.

Catatan

Dalam   ajaran   kejiwaannya,  para  Sufi  menyatakan  bahwa
penyampaian  pengetahuan  secara  biasa  mudah   menyebabkan
kekeliruan  karena  adanya  penambahan  atau pengurangan dan
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu  tidak
bisa  dipergunakan  sebagai pengganti persepsi langsung atas
kenyataan.

Kisah yang  menggambarkan  subyektivitas  otak  manusia  ini
dikutip dari buku  pelajaran Asrar-i-Khilwatia 'Rahasia Para
Pertapa,'  karangan  Syeh  Qalandar   Syah,   anggota   Kaum
Suhrawardi,  yang  meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,
Pakistan.

Para Sufi Pencari Kebenaran


Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran, yang berupa kenyataan obyektif. Konon, seorang tiran yang bodoh dan dengki memutuskan untuk memiliki kebenaran ini. Namanya Rudarigh, seorang raja besar di Marsia, Spanyol. Ia menetapkan bahwa kebenaran akan bisa didengarnya kalau Umar al-Alawi dari Tarragona dipaksa untuk mengatakannya.
Umar pun di tangkap dan dibawa ke Istana. Kata Rudarigh, "Aku telah memutuskan agar kebenaran yang kau ketahui harus kaukatakan kepadaku dalam kata-kata yang bisa kumengerti, kalau tidak nyawamu harus kau pertaruhkan."
Umar menjawab, "Apakah Tuan mengetahui kebiasaan dalam istana perkasa ini, apabila seorang yang ditahan mengungkapkan kebenaran sebagai jawaban atas suatu pertanyaan dan kebenaran itu tidak membuktikannya salah, maka ia akan dibebaskan kembali?"

Cerita dalam kehidupan Isa bin Maryam.


Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa
bin Maryam.

Pada suatu hari Isa melihat orang-orang  duduk  bersedih  di
sebuah tembok, dipinggir jalan.

Tanyanya, "Apa gerangan yang merundungmu semua?"

Jawab  mereka,  "Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan
kami menghadapi neraka."

Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah  orang
berkelompok  berduka  dalam  berbagai  gaya dipinggir jalan.
Katanya,  "Apa  gerangan  yang  merundung  kalian?"   Mereka
menjawab,  "Keinginan  akan  sorga  telah membuat kami semua
begini."

Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu  dengan
kelompok  ketiga.  Tampaknya orang-orang itu telah menderita
amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.

Isa bertanya, "Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?"

Mereka menjawab, "Semangat  Kebenaran.  Kami  telah  melihat
Kenyataan,  dan  hal  itu  telah  menyebabkan kami melupakan
tujuan-tujuan lain yang sepele."

Isa  berkata,  "Orang-orang  itu  telah  sampai.  Pada  Hari
Perhitungan  nanti,  merekalah  yang  akan  berada  di  Sisi
Tuhan."

Catatan

Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka  yang
percaya   bahwa  kemajuan  rohaniah  hanya  tergantung  pada
pengolahan masalah ganjaran dan siksa.

Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang  tertentu  bisa
mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung
atau  rugi;  dan  bahwa  hal  ini  mungkin  hanya  merupakan
sebagian  saja  dari  pengalaman  orang-seorang. Mereka yang
telah mempelajari  pelbagai  cara  dan  akibat  keadaan  dan
pencekokan  (conditioning and indoctrination) mungkin merasa
sepakat dengan pandangan tersebut.

Tentu   saja,   kaum   agamawan   formal,   dalam   pelbagai
keyakinannya  tidak  mengakui  bahwa  pilihan sederhana atas
baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa  hanyalah
sekedar   bagian-bagian   suatu   sistem  lebih  besar  dari
kesadaran diri.