Pages

Ads 468x60px

Sultan Buangan


SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN

Seorang   Sultan   Mesir   konon  mengumpulkan  orang  orang
terpelajar,  dan-seperti  biasanya--timbullah  pertengkaran.
Pokok  masalahnya  adalah  Mikraj  Nabi Muhammad. Dikatakan,
pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat  tidurnya,
dibawa  ke  langit.  Selama  waktu  itu ia menyaksikan sorga
neraka, berbicara dengan Tuhan  sembilan  puluh  ribu  kali,
mengalami   pelbagai   kejadian  lain--dan  dikembalikan  ke
kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat.  Kendi  air
yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya
masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Kisah Sufi - Sifat Murid


SIFAT MURID

Diceritakan bahwa Ibrahim  Khawas,  ketika  ia  masih  muda,
ingin  mengikuti  seorang guru. Iapun mencari seorang bijak,
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.

Sang Bijak berkata. "Kau belum lagi siap."

Karena anak muda itu  bersikeras  juga,  guru  itu  berkata,
"Baiklah,  aku  akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut."

Murid itu teramat gembira.

"Karena kita mengadakan  perjalanan  berdua,  salah  seorang
harus menjadi pemimpin," kata Sang Guru "Kau pilih jadi apa?"

"Saya ikut saja, Bapak yang memimpin," kata Ibrahim.

"Tentu  aku  akan  memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi
pengikut," kata Sang Guru.

Perjalananpun dimulai. Sementara  mereka  beristirahat  pada
suatu  malam  di  padang  pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang
guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya
dari kebasahan.

"Tetapi  seharusnya  sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,"
kata Ibrahim.

"Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku  melindungimu,"
kata Sang Bijak.

Siang  harinya,  anak  muda itu berkata, "Nah ini hari baru.
Sekarang  perkenankan  saya  menjadi  pemimpin,  dan   Bapak
mengikut saya." Sang gurupun setuju.

"Saya  akan  mengumpulkan  kayu,  untuk  membuat  api," kata
pemuda itu.

"Kau tak boleh melakukan itu; aku yang  akan  melakukannya,"
kata Sang Bijak.

"Saya  memerintahkan  agar  Bapak  duduk Saja sementara saya
mengumpulkan kayu!" kata pemuda itu.

"Kau tak boleh melakukan hal itu," kata orang bijaksana itu;
"sebab  hal  itu  tidak  sesuai dengan syarat menjadi murid;
pengikut  tidak  boleh  membiarkan  dirinya  dilayani   oleh
pemimpinnya."

Demikianlah,  setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid
apa   yang   sebenarnya   makna   menjadi    murid    dengan
contoh-contoh.

Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu
dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak  berani  menatap
matanya.

"Yang  kaupelajari  itu,"  kata  Sang Bijak, "adalah sesuatu
yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid."

Catatan

Ibrahim Khawas ('Si Penganyam Palem') memberi batasan  jalan
Sufi  sebagai,  "Biarkan  saja  apa  yang  dilakukan untukmu
dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri  apa  yang  harus
kau kerjakan bagi dirimu sendiri."

Kisah  ini  menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan
antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang  bagaimana
seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan
tersebut dalam kenyataannya.

Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung  zaman
awal,   dan   perjalanan  ini  dikutip  oleh  Hujwiri  dalam
Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar  tertua  yang  masih
ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Kisah Unik si Tolol, Bijak dan Kendi


SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI

Seorang tolol merupakan panggilan  bagi  orang  biasa,  yang
senantiasa  salah  menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa
yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang  lain.  Ia
melakukan  semuanya  itu  begitu  meyakinkan  sehingga  bagi
dirinya  dan  orang-orang  semacamnya  segi  kehidupan   dan
pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.

Seorang  tolol  semacam  itu pada suatu hari disuruh membawa
kendi menemui seorang bijaksana  untuk  meminta  anggur.  Di
tengah   jalan,   karena   kecerobohannya   Si   Tolol   itu
membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.

Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia  memberikan
pegangan   kendinya,   katanya,   "Tuan  Anu  menyuruh  saya
memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan  ia
dicuri batu."

Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang
bijaksana itu bertanya.

"Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku
pegangannya?"

"Saya tidak setolol yang disangka orang," kata Si Tolol itu,
"oleh  karena  saya  membawa  pegangan   kendi   ini   untuk
membuktikan kebenaran ceritaku."
Catatan
Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru
darwis  adalah  bahwa   kemanusiaan   umumnya   tidak   bisa
membedakan   suatu   kecenderungan   tersembunyi   di  balik
peristiwa-peristiwa,    yang    mestinya     memungkinkannya
memanfaatkannya  sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat
kecenderungan itu disebut Sang  Bijaksana,  sementara  orang
kebanyakan disebut "tidur," atau di panggil Si Tolol.
Kisah  ini,  yang  dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel
Wilberforce  Clarke  (Diwan-i-Hafiz)  merupakan  salah  satu
contoh  khas.  Dengan  menyerap  ajaran  itu lewat tokoh dan
kisah  yang  dilebih-lebihkan,  orang-orang  tertentu  mampu
benar-benar  "memekakan"  diri untuk menangkap kecenderungan
tersembunyi itu.
Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan
oleh  Pir-i-do-Sara,  "Yang mengenakan Jubah Bertambal" yang
meninggal  tahun  1790  dan  dimakamkan  di  Mazar-i-Sharif,
Turkestan.