English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Senin, 12 September 2011

Masjid Umat Islam Jepang di Gifu


UMAT Islam di Jepang memiliki masjid baru, Masjid Gifu. Tidak hanya itu, pembangunan kini dilanjutkan dengan pendirian International Islamic School dan Pusat Budaya Muslim pertama di Jepang. Peresmian Masjid Gifu dilakukan Ahad, 27 Juli 2008, di kota Gifu, Jepang tengah. Lokasi masjid berdekatan dengan Universitas Gifu, hanya butuh waktusekitar 5 menit jika ditempuh dengan bersepeda.
Rencananya, masjid ini akan menjadi pusat syiar Islam terlengkap di area Jepang tengah. Kota Gifu sendiri terkenal sebagai produsen tekstil terbesar di Jepang dan merupakan salah satu kantong masyarakat muslim terbesar di kawasan industri otomotif di prefektur Aichi.
Acara peresmian dihadiri 1, 200 orang. Sejumlah ulama dan tokoh dunia Islam hadir dalam peresmian tersebut, antara lain Imam Masjidil Haram, Makkah, Syeikh Salih bin Humaid, sebagai tokoh utama yang sekaligus membuka secara resmi masjid untuk penggunaan umum.
Para duta besar dari negara-negara Muslim juga hadir, seperti Dubes Saudi Arabia, Irak, Iran, Mesir, Oman, Afghanistan, Syria, Pakistan, serta Direktur Pusat Budaya Amerika Nagoya.
Selain itu, hadir pula memberikan sambutan Rektor Universitas Gifu, Hideki Mori, dan para pejabat dari Kantor Gubernur dan Walikota Gifu, Kepolisian, dan LSM Jepang.
Perwakilan mahasiswa Indonesia dan alumni beberapa universitas di Gifu, Nagoya, Osaka, Kyoto, dan Tokyo juga hadir sebagai panitia inti.
Perwakilan mahasiswa dan masyarakat profesional Indonesia yang tergabung dalam Working Group for Technology Transfer (WGTT) juga hadir dan meliput acara.
Menurut rilis oleh WGTT menyebutkan, proyek pembangunan masjid sendiri menelan biaya sekitar 129 juta yen atau sekitar 1.1 juta dollar Amerika Serikat. Perencanaannya dilakukan sejak 25 September 2007.
Luas bangunan masjid sekitar 351 m2, terdiri dari beberapa ruangan penting selain ruang sholat, seperti perpustakaan dan ruang konsultasi. Kini proyek pembangunan International Islamic School dan Pusat Budaya Muslim tengah dilakukan dan diperkirakan menelan biaya sekitar 135 juta yen.
Sejarah Islam di Jepang
Perkembangan agama Islam di Jepang memiliki sejarah yang cukup panjang.
Menurut Dr. Satoro Nakamura, informasi-informasi pertama tentang orang-orang Arab dan Islam di Jepang ditulis oleh Arai Hakuseki. Sedangkan orang Jepang pertama yang masuk Islam bernama Torajiro Yamada, ketika dia sedang berkunjung ke Turki. Disusul kemudian oleh Bumpachiro Ariga yang masuk Islam karena pengaruh warga Muslim lokal ketika dia melakukan perjalanan dagang ke Mumbai.
Menurut Nakamura, masjid pertama di Jepang didirikan pada 1931 di kota Nagoya. Lalu atas bantuan para pengungsi Muslim asal Asia, masjid kedua didirikan pada 1935 di kota Kobe dan masih berdiri hingga sekarang.
Sebelum perang dunia II, sudah ada sejumlah organisasi Islam di Jepang. Ketika perang dunia II usai, dibentuklah Asosiasi Muslim Jepang.
Asosiasi ini mengirim beberapa siswa untuk belajar ke Al-Azhar, Mesir antara tahun 1957-1965, ke Teluk Persia pada era tahun 1970-an dan ke Malaysia serta Indonesia.
Bersamaan dengan krisis minyak dunia di era tahun 1970-an, bahasa Arab mulai diajarkan di seluruh Jepang dan ada beberapa wanita Jepang yang menikah dengan para pengusaha asing Muslim.
Para pengusaha Muslim ini banyak berdatangan ke negeri Matahari Terbit ketika ekonomi negara itu sedang maju-majunya di era 1980-an.
Nakamura juga mengungkapkan, ada dua persoalan utama yang saat ini dihadapi Muslim Jepang, rendahnya tingkat pendidikan dan tempat pemakaman. Tempat pemakaman bagi warga Muslim yang ada sekarang adalah milik Asosiasi Muslim Jepang berlokasi di Yamanachi sekitar 300 km dari kota Tokyo.
Dalam hal pendidikan, Muslim Jepang cukup terbantu oleh pemerintah Arab Saudi yang mendirikan Institute Studi Arab dan Islam pada 1983. Isntitut ini berafiliasi dengan Universitas Imam Muhammad Ibnu Saudi.
“Di sekolah-sekolah di Jepang Islam diajarkan hanya dari perspektif sejarahnya saja, padahal para siswa perlu juga memahamai isu-isu politik kontemporer secara lebih baik,” kata Nakamura.
Data statistik tahun 2005 menunjukkan jumlah warga Muslim di Jepang sekitar 70 ribu orang. Mereka bisa beribadah di lebih dari 15 masjid dan 16 musholla. Komunitas Muslim terbesar berada di kota Kobe.
Dr. Satoro Nakamura sendiri adalah sarjana bahasa Arab lulusan Universitas Tokyo pada 1993. Dia meraih gelar doktor bidang studi Islam dari universitas yang sama pada 1998 dan mendapat gelar PhD tahun 2002.
Disertasinya berjudul “Formasi Negara Modern Saudi dan Dampaknya pada Kalangan Badui dan Penduduk Kota”.
Antara tahun 1994-1997, Nakamura bekerja sebagai atase khusus di kedutaan besar Jepang di Riyadh. Dia juga banyak menulis artikel tentang reformasi ekonomi dan politik di Arab Saudi dan tentang hubungan AS-Arab Saudi.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul