English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Senin, 12 Juli 2010

Kisah Berjalan di Atas Air


ORANG YANG BERJALAN DI ATAS AIR

Seorang darwis yang suka berpegang pada kaidah, yang berasal
dari  mazhab sangat saleh, pada suatu hari berjalan menyusur
tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada  pelbagai  masalah
moral  dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian
pengajaran  Sufi  dalam  mazhabnya.  Ia   menyamakan   agama
perasaan dengan pencarian Kebenaran mutlak.

Tiba-tiba   renungannya   terganggu   oleh  teriakan  keras:
seseorang terdengar mengulang-ngulang suatu ungkapan darwis.
"Tak  ada  gunanya itu," katanya kepada diri sendiri, "sebab
orang   itu   telah   salah    mengucapkannya.    Seharusnya
diucapkannya YA-HU, tapi dia mengucapkannya U-YA-HU."

Kemudian  ia  menyadari  bahwa,  sebagai  Darwis  yang lebih
teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ucapan orang
itu.  Mungkin  orang  itu  tidak pernah mempunyai kesempatan
mendapat bimbingan yang baik, dan  karenanya  telah  berbuat
sebaik-baiknya  untuk  menyesuaikan diri dengan gagasan yang
ada di balik suara yang diucapkannya itu.

Demikianlah Darwis yang pertama itu menyewa perahu dan pergi
ke  pulau  di  tengah-tengah  arus sungai, tempat asal suara
yang didengarnya tadi.

Didapatinya orang  itu  duduk  disebuah  gubuk  alang-alang,
bergerak-gerak  sangat sukar teratur mengikuti ungkapan yang
diucapkannya itu.  "Sahabat,"  kata  darwis  pertama,  "Anda
keliru   mengucapkan   ungkapan   itu.   Saya   berkewajiban
memberitahukan hal ini kepada Anda, sebab  ada  pahala  bagi
orang  yang memberi dan menerima nasehat. Inilah ucapan yang
benar." Lalu di beritahukannya ucapan itu.

"Terima kasih," kata darwis  yang  lain  itu  dengan  rendah
hati.

Darwis  pertama  turun ke perahunya lagi, sangat puas, sebab
baru saja  berbuat  amal.  Bagaimanapun,  kalau  orang  bisa
mengulang-ngulang  ungkapan  rahasia  itu  dengan benar, ada
kemungkinan bisa berjalan diatas air. Hal itu  memang  belum
pernah   disaksikannya  sendiri tetapi --berdasarkan  alasan
tertentu-- darwis pertama itu ingin sekali bisa melakukannya.

Kini ia  tak mendengar lagi  suara  gubuk  alang-alang  itu,
namun   ia   yakin   bahwa   nasehatnya  telah  dilaksanakan
sebaik-baiknya.

Kemudian didengarnya kembali ucapan  U-YA  yang  keliru  itu
ketika darwis yang di pulau tersebut mulai mengulang-ngulang
ungkapannya.

Ketika darwis pertama merenungkan hal itu, memikirkan betapa
manusia  memang  suka  bersikeras mempertahankan kekeliruan,
tiba-tiba disaksikannya  pandangan  yang  menakjubkan.  Dari
arah  pulau  itu, darwis kedua tadi tampak menuju perahunya,
berjalan diatas air.

Karena takjubnya, ia pun berhenti mendayung. Darwis keduapun
mendekatinya,  katanya, "Saudara, maaf saya mengganggu Anda.
Saya  datang  untuk  menanyakan  cara   yang   benar   untuk
mengucapkan ungkapan yang Anda beritahukan kepada saya tadi;
sulit benar rasanya mengingat-ingatnya."

Catatan

Dalam  Bahasa  Indonesia,  hanya   satu   arti   yang   bisa
diungkapkan   oleh   kisah  ini.  Dalam  versi  Arab  sering
dipergunakan kata-kata yang  bunyinya  sama  tetapi  berbeda
arti   (homonim)   untuk  menyatakan  bahwa  kata  itu  bisa
dipergunakan untuk  memperdalam  kesadaran,  disamping  juga
menunjukkan sesuatu yang nilainya dangkal.

Di  samping  terdapat dalam sastra masa kini yang populer di
Timur, kisah ini juga didapati dalam naskah-naskah pelajaran
darwis, beberapa diantaranya sangat penting.

Versi  ini  berasal dan Kaum Asaaseen ('hakiki,' 'asli'), di
Timur Dekat dan Tengah.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul