English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 25 Juli 2010

Toko Lampu



Pada  suatu  malam  gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan
yang sunyi.

"Saya mencari sebuah toko  dekat-dekat  sini,  namanya  Toko
Lampu," kata yang pertama.

"Saya  kebetulan  orang  sini,  dan bisa menunjukkannya pada
saudara," kata orang kedua.

"Saya harus bisa menemukannya  sendiri.  Saya  sudah  diberi
petunjuk, dan sudah saya catat pula," kata yang pertama.

"Jadi, kenapa Saudara mengatakan hal itu kepada saya?"

"Iseng saja."

"Jadi Saudara ingin ditemani, tidak ditunjukkan arahnya?"

"Ya, itulah maksud saya."

"Tetapi  lebih  mudah bagi Saudara kalau ditunjukkan arahnya
oleh penduduk sini, sudah sejauh  ini:  apalagi  mulai  dari
sini jalannya sulit."

"Saya  percaya  pada  apa  yang sudah dikatakan kepada saya,
yang telah membawaku  sejauh  ini.  Saya  tidak  yakin  bisa
mempercayai sesuatu atau seseorang lain lagi."

"Jadi,  meskipun Saudara mempercayai pemberi keterangan yang
pertama, Saudara tidak diajar cara memilih orang  yang  bisa
Saudara percayai?"

"Begitulah."

"Saudara punya tujuan lain?"

"Tidak, hanya mencari Toko Lampu itu."

"Boleh  saya  bertanya:  kenapa  Saudara  mencari toko lampu
itu?"

"Sebab saya diberi tahu para ahli  bahwa  di  tempat  itulah
saya  bisa  mendapatkan  alat-alat  yang  memungkinkan orang
membaca dalam gelap."

"Saudara  benar,  tetapi  ada  syarat,  dan   juga   sedikit
keterangan. Saya ragu apakah mereka sudah memberitahukan hal
itu kepada Saudara."

"Apa itu?"

"Syarat untuk bisa membaca dengan lampu adalah bahwa Saudara
harus sudah bisa membaca."

"Saudara tidak bisa membuktikannya!"

"Tentu  saja  dalam  malam gelap semacam ini saya tidak bisa
membuktikannya."

"Lalu, ,sedikit keterangan, itu apa?"

"Sedikit keterangan itu adalah bahwa Toko Lampu itu masih di
sana, tetapi lampu-lampunya sudah dipindah ke tempat lain."

"Saya  tidak  tahu  'lampu'  itu  apa, tetapi tampaknya Toko
Lampu adalah tempat menyimpan  alat  tersebut.  Oleh  karena
itulah ia disebut Toko Lampu."

"Tetapi  'Toko Lampu' bisa mempunyai dua makna yang berbeda,
yang bertentangan. Yang pertama, 'Tempat di mana lampu-lampu
bisa  didapatkan;'  yang ke dua, "Tempat di mana lampu-lampu
pernah bisa didapatkan, tetapi kini tidak ada lagi."

"Saudara tidak bisa membuktikannya!"

"Saudara akan dianggap tolol oleh kebanyakan orang."

"Tetapi ada banyak orang yang akan menganggap Saudara tolol.
Mungkin  Saudara  bukan  Si Tolol. Saudara mungkin mempunyai
maksud tersembunyi, menyuruh  saya  pergi  ke  tempat  teman
Saudara  yang  berjualan  lampu.  Atau mungkin Saudara tidak
menginginkan saya mempunyai lampu sama sekali."

"Saya ini lebih buruk  dari  yang  Saudara  bayangkan.  Saya
tidak   menjanjikan  Saudara  'Toko  Lampu'  dan  membiarkan
Saudara menganggap bahwa masalah Saudara akan terpecahkan di
sana,  tetapi  saya  pertama-tama  ingin  mengetahui  apakah
Saudara ini bisa  membaca.  Saya  tentu  bisa  mengetahuinya
seandainya  Saudara  berada  dekat  sebuah toko semacam itu.
Atau apakah lampu bisa didapatkan bagi Saudara  dengan  cara
lain."

Kedua  orang  itu  saling  memandang, dengan sedih, sejenak.
Lalu masing-masing melanjutkan perjalanannya.

Catatan

Syeh-Per Syatari, penulis kisah ini, meninggal di India pada
tahun 1632. Makamnya di Meerut.

Ia   dipercaya   bisa  melakukan  hubungan  telepati  dengan
guru-guru "masa lampau, kini, dan masa depan,"  dan  memberi
mereka   kemudahan  untuk  menjelaskan  pesan  mereka  lewat
kepandaiannya  menyusun  kisah-kisah  berdasarkan  kehidupan
sehari-hari.

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul