English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Minggu, 25 Juli 2010

Ular dan Merak



Pada  suatu  hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung
-karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan
Bhokara   guna  mencari  ilmu  yang  lebih  tinggi.  Gurunya
menasehatkan agar ia berjalan ke arah selatan, dan  katanya,
"Carilah  makna  Merak  dan  Ular."  tentu  saja anjuran itu
membuat Adi berpikir keras.

Ia mengembarai Khorasan dan  akhirnya  sampai  di  Irak.  Di
negeri  Irak,  ia benar-benar menemukan tempat yang terdapat
seekor merak dan seekor ular. Adipun mengajak bicara mereka.
Kedua  binatang  itu  berkata, "Kami sedang memperbincangkan
keunggulan kami masing-masing."

"Nah, justru itu yang ingin kuketahui," kata Adi.  "Teruskan
berbincang-bincang."

"Rasanya,  akulah  yang  lebih  berguna,"  kata  Merak. "Aku
melambangkan  cita-cita,  perjalanan  ke  langit   keindahan
sorgawi,  dan  karenanya  juga pengetahuan adiluhung. Adalah
tugasku untuk mengingatkan manusia, dengan  cara  menirukan,
tentang segi-segi dirinya yang tak dilihatnya."

 "Sebaliknya,  aku,"  kata  Ular,  sambil  mendesis pelahan,
"melambangkan hal itu juga.  Seperti  manusia,  aku  terikat
pada   bumi  Kenyataan  itu  menyebabkan  manusia  menyadari
dirinya.   Juga   seperti   manusia,   aku   lentur,    bisa
berkelok-kelok  menyusur  tanah.  Manusia  sering  melupakan
kenyataan itu. Menurut kisah ,  akulah  penjaga  harta  yang
tersembunyi di bumi."

"Tetapi  kau  menjijikkan," teriak Merak. "Kau licik, licin,
dan berbahaya."

"Kau  menyebut  sifat-sifat   kemanusiaanku,"   kata   Ular,
"sedangkan  aku  lebih  suka  menunjukkan sifat-sifatku yang
lain, yang sudah kusebut-sebut tadi. Sekarang, lihat  dirimu
sendiri:  kau  sombong, kegemukan, dan suaramu serak. Kakimu
terlalu besar, bulu-bulumu berlebihan panjangnya."

Sampai disini Adi menyela, "Hanya ketidak-cocokanmulah  yang
telah  menyebabkan  aku  mengetahui  bahwa tak ada di antara
kalian yang benar. Namun kita jelas-jelas  melihat,  apabila
kalian sama-sama meninggalkan keasyikan diri sendiri, secara
bersama-sama kalian bisa memberi pesan bagi kemanusiaan."

Dan,   sementara   dua    pihak    yang    bertengkar    itu
mendengarkannya,   Adi   menjelaskan   peran   mereka   bagi
kemanusiaan: "Manusia melata di tanah bagai Si Ular. Ia bisa
melayang  tinggi  bagai  Burung. Namun, karena tamak seperti
Ular,  ia  tetap  mempertahankan  kepentingan  diri  sendiri
ketika  berusaha  terbang, dan mereka menjadi seperti Merak;
terlampau  sombong.   Dalam   diri   Merak,   kita   melihat
kemungkinan   manusia,  namun  yang  tidak  tercapai  dengan
semestinya. Pada kilauan Ular, kita menyaksikan  kemungkinan
keindahan.   Pada  Merak,  kita  menyaksikan  keindahan  itu
menjadi terlalu berbunga-bunga."

Dan kemudian terdengar Suara  dari  dalam  berbicara  kepada
Adi,   "Itu  belum  lengkap.  Kedua  makhluk  itu  diberkahi
kehidupan, yang merupakan faktor penentu. Mereka  bertengkar
karena   masing-masing   telah   merasa   aman  dalam  jenis
kehidupannya sendiri, beranggapan bahwa  hal  itu  merupakan
perwujudan  suatu  kedudukan  yang  sebenarnya.  Namun, yang
seekor menjaga harta dan tidak bisa  mempergunakannya.  Yang
lain  mencerminkan  keindahan,  harta juga, namun tidak bisa
mengubah  dirinya  sendiri  menjadi  keindahan.  Di  Samping
ketidakmampuan  keduanya  untuk  mengambil  keuntungan  dari
kesempatan   yang   terbuka   bagi   mereka   keduanya   pun
melambangkan  kesempatan  itu  --tentu bagi mereka yang bisa
melihat dan mendengarnya."

Catatan

Pemujaan Ular dan  Merak  di  Irak  didasarkan  pada  ajaran
seorang  Syeh  Sufi,  Adi,  putra  Musafir,  pada abad kedua
belas. Pemujaan itu dianggap suatu misteri  oleh  kebanyakan
orientalis.

Kisah   ini,   yang   tercatat  dalam  legenda,  menunjukkan
bagaimana  guru-guru  darwis  membentuk  "mazhab-mazhab"-nya
berdasarkan  pelbagai  lambang,  yang  dipilih untuk memberi
contoh ajaran-ajarannya.

Dalam bahasa Arab, "Merak"  melambangkan  juga  "perhiasan;"
sedangkan  "Ular,"  memiliki  bentuk  huruf yang sama dengan
"organisme" dan "kehidupan." Oleh  karena  itu  perlambangan
Pemujaan  Malaikat  Merak  yang  tersembunyi  -Kaum Yezidis-
adalah suatu cara untuk menunjukkan "Bagian Dalam dan Luar,"
rumus rumus Sufi tradisional.

Pemujaan  itu  masih  ada  di  Timur  Tengah,  dan  memiliki
penganut (tak ada di antara mereka itu yang orang  Irak)  di
Inggris dan Amerika Serikat.

------------------------------------------------------------
K I S A H - K I S A H   S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^

Alquran @ HamdaniSekumpul