Pages

Ads 468x60px

Si Buta dan Si Lumpuh

Pada suatu hari seorang lumpuh pergi ke  sebuah  warung  dan
duduk  disamping  seseorang  yang  sudah  sejak tadi disana.
"Saya tidak bisa datang ke pesta Sultan,"  keluhnya,  karena
kakiku yang lumpuh sebelah ini aku tak bisa berjalan cepat."

Orang  disebelahnya  itu  mengangkat kepalanya. "Saya pun di
undang,"  katanya,  "tetapi  keadaanku  lebih   buruk   dari
Saudara.  Saya  buta,  dan  tak bisa melihat jalan, meskipun
saya juga diundang."

Orang ketiga, yang mendengar  percakapan  kedua  orang  itu,
berkata,  "Tetapi,  kalau  saja  kalian menyadarinya, kalian
berdua mempunyai sarana untuk  mencapai  tujuan.  Yang  buta
bisa  berjalan, yang lumpuh didukung di pungung. Kalian bisa
menggunakan kaki si Buta, dan Si  Lumpuh  untuk  menunjukkan
jalan."

Dengan  cara itulah keduanya bisa mencapai tujuan, dan pesta
sudah menanti.

Dalam perjalanan, keduanya sempat berhenti di sebuah  warung
lain.  Mereka  menjelaskan  keadaannya kepada dua orang lain
yang duduk bersedih disana. Kedua orang  itu,  yang  seorang
tuli,  yang lain bisu. Keduanya juga diundang ke pesta. Yang
bisu mendengar,  tetapi  tidak  bisa  menjelaskannya  kepada
temannya  yang tuli itu. Yang tuli bisa bicara, tetapi tidak
ada yang bisa dikatakannya.

Kedua orang itu tak ada yang bisa  datang  ke  pesta;  sebab
kali  ini  tak ada orang ketiga yang bisa menjelaskan kepada
mereka bahwa ada  masalah,  apalagi  bagaimana  cara  mereka
memecahkan masalah itu.

Catatan

Dikisahkan  bahwa Abdul Kadir yang Agung meninggalkan sebuah
jubah Sufi  yang  bertambal-tambal  untuk  diberikan  kepada
calon  pemakainya  yang  baru  akan  lahir  enam ratus tahun
setelah kematian Sufi Agung itu.

Pada  tahun  1563,  Sayid  Iskandar  Syah,  Qadiri,  setelah
mendapat  kepercayaan  ini,  menunjuk  Syeh Ahmad Faruk dari
Sirhind sebagai pewaris mantel itu.

Guru Naqshibandi ini telah ditahbiskan menjadi anggota  enam
belas  Kaum  Sufi  oleh  ayahnya,  yang  telah  mencari  dan
membangkitkan kembali adat dan pengetahuan Sufisme sepanjang
pengembaraannya yang jauh dan berbahaya.

Orang percaya bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan
munculnya Guru Agung,  dan  turun-temurun  orang-orang  suci
telah menanti perwujudan itu.

Sebagai  akibat dari munculnya Faruqi dan penerimaannya oleh
semua Kaum pada masanya, Kaum  Naqshibandi  kini  meresmikan
pengikut-pengikutnya   menjadi   empat   jalur  utama  dalam
Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshibandi.

"Si Lumpuh dan Si Buta" dianggap sebagai ciptaan Syeh  Ahmad
Faruk,  yang  meninggal  tahun  1615.  Kisah  ini baru boleh
dibaca setelah menerima perintah untuk membacanya: atau oleh
mereka   yang   telah   mempelajari   Karya   Hakim   Sanai,
"Orang-orang Buta dan Gajah."

No comments:

Post a Comment

Assalamualaikum.. Temen2 jangan lupa Komentar na ^_^